Minggu, 03 April 2016

Kirana dan Ksatria

Ketika Cinta Tak Saling Mencari,
Ketika Itu Pula Cinta Saling Menemukan
A
ku berdiri di antara bangunan tua yang meninggalkan banyak legenda. Lalu, melewati gerbang tengah Universitas Harvard, gerbang yang mitosnya hanya boleh dilewati dua kali selama menjadi mahasiswa di sini, yakni saat pertama kuliah dan saat lulus kuliah. Aku berhasil menginjakkan kakiku di sini, Universitas Harvard, sebagai mahasiswa S2 jurusan Education. Rasa bangga menyelimuti hari-hariku. Dan hari ini adalah hari pertamaku kuliah.
          Aku Kirana. Sebelum menempuh S2 di Harvard, aku adalah seorang guru di salah satu sekolah swasta terbaik di Indonesia. Keputusanku untuk resign dari sekolah ini sempat mengalami jungkir balik. Banyak hal yang membuatku goyah. Mulai dari orang tuaku yang tidak mau aku berada jauh dari mereka hingga aku yang tidak mau berada jauh dari Ksatria, pemuda pintar, hebat, dan bersahaja, yang telah lama bersemayam di hatiku. Namun, ia tak pernah peka akan hal itu. Jadi, lebih baik aku merantau jauh ke Amerika untuk bisa melupakannya walaupun memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Mungkin, sesulit aku menempuh berbagai tes untuk masuk Universitas Harvard.
*****
          Senja sudah menampakkan peraduannya. Aku duduk sambil menyalakan MacBook Retina Displayku. Lalu, kubuka akun facebook-ku. Kulihat Ksatria sedang online. Tak lama kemudian, ia menulis status, “Harvard, I’m coming....”
          Mataku terbelalak membaca status itu. Apakah Ksatria akan datang? Memang, sempat tersiar kabar bahwa sekolah tempat kami mengajar akan mengikuti simulasi sidang PBB, yaitu Harvard Model United Nations (HMUN) yang diselenggarakan Universitas Harvard. Apakah Ksatria yang menjadi pembimbing anak-anak mengikuti program ini?
          Aku menyesap coklat panas marshmallow untuk menenangkan pikiranku. Aku berusaha untuk berpikir jernih sambil memejamkan mata. Status Ksatria di Facebook tadi membayang-bayangiku. Ia akan ke Harvard. Tidak aneh jika Ksatria menjadi pendamping anak-anak mengikuti program itu. Ksatria, pemuda hebat yang selalu membuatku kagum.
*****
“At Sheraton Hotel, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat...”
Begitulah status Facebook Ksatria. Saat ini ia sedang mendampingi anak-anak mengikuti simulasi sidang PBB di Sheraton Hotel, Boston, Massachussetts, Amerika Serikat. Cukup dekat dengan kampusku. Kedatangan Ksatria benar-benar merusak konsentrasi belajarku. Aku menjadi tidak fokus. Rasanya ingin sekali aku bertemu dengannya. Tapi bagaimana? Mungkin dia sedang sangat sibuk. Aku tidak mau mengganggunya. Lebih baik aku menuju perpustakaan untuk mempersiapkan presentasi besok pagi.
          Aku menghabiskan waktu di perpustakaan cukup lama. Aku melihat-lihat koleksi buku cetak, buku digital, hingga foto-foto yang ada di perpustakaan ini. Jumlahnya sangat banyak. Koleksi buku cetaknya mencapai 15 juta judul, buku digitalnya mencapai 18 juta judul, dan foto-fotonya mencapai 8 juta buah. Tak heran mahasiswa Harvard pintar-pintar. Semua buku yang dibutuhkan tersedia di perpustakaan ini, perpustakaan terbesar nomor dua di dunia setelah perpustakaan Kongres Amerika Serikat.
          Hari ini hanya ada tiga mata kuliah. Semuanya cukup memeras otak. Sekarang waktunya untuk pulang. Hmm.. Tunggu! Jika aku pulang sekarang, mungkin pikiranku akan teralihkan kembali pada Ksatria. Apa yang harus kulakukan supaya aku tidak memikirkan Ksatria? Aku berjalan melewati tekstur bangunan yang sangat khas, bangunan-bangunan kuno bercat merah bata yang terurus dengan baik, dikelilingi pepohonan kering tak berdaun. Namun, indah dilihat. Jalanannya basah dan sebagian tertutup salju. Ternyata kampus ini sangat luas.
Lelah sudah menggerogoti tubuhku. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 sore. Angin berhembus cukup kencang, membuat cuaca semakin dingin. Aku membetulkan mantelku. Aku berjalan melewati pojok jalan Massachussets Avenue. Di sebelah kiri jalan terdapat Alun-Alun Harvard. Masyarakat di sini sering pula menyebutnya Harvard Square. Di sana banyak mahasiswa berkerumun dan berlalu-lalang. Penasaran, aku pun menghampiri kerumunan itu. Terdengar musik tradisional Afrika di sana. Ternyata beberapa orang mahasiswa Harvard-lah yang memainkan musik itu. Keren sekali. Tak heran banyak mahasiswa yang tertarik untuk melihat pertunjukkan itu ketika melewati kawasan ini.
Tak lama kemudian, kulihat sebuah bus berhenti di pinggir jalan, lalu menurunkan rombongan yang sepertinya berasal dari Indonesia. Mataku terbelalak ketika melihat salah satu pemuda yang turun dari bus itu. Ksatria!
Aku melihatnya. Ya, aku melihat Ksatria bersama rombongan siswa sedang berjalan menuju tempatku berdiri saat ini. Entah ia melihatku atau tidak. Jantungku seketika berguncang hebat. Tubuhku terpaku. Aku kaku.
Lalu, ia melihatku. Wajahnya pun terlihat terkejut ketika ia melihatku. Mungkin ia sama terkejutnya denganku. Kemudian, ia menghampiriku.
“Kirana?!” sapanya terkesan tak percaya.
“Akhirnya aku bertemu denganmu, Ksatria,” ujarku datar.
“Sedang apa kau di sini?” tanyanya penasaran.
“Aku hanya berjalan-jalan sore,” jawabku kaku.
“Tak kusangka aku bertemu denganmu. Dunia ini sangat sempit,” ujar Ksatria setengah tertawa. Terkesan masih tak percaya. Aku hanya tersenyum.
“Sekolah kita menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang mengikuti simulasi sidang PBB, Harvard Model United Nations (HMUN) yang diselenggarakan Universitas Harvard,” jelas Ksatria bangga.
“Sekolah kita memang luar biasa. Membanggakan. Dan kaulah yang menjadi pembimbingnya?”
“Ya, tentu saja. Dan aku bertemu denganmu,” wajah Ksatria sumringah. Apa dia senang bertemu denganku? Ah sudahlah. Aku tidak perlu berharap.
“Senang bertemu denganmu,” ujarku. Uups! Apa yang kukatakan barusan? Kenapa aku jujur sekali?!
“Senang bertemu denganmu juga,” balas Ksatria dengan senyum lebar. Betapa senangnya diriku. Mata Ksatria berkeliling melihat-lihat kawasan sekitar Alun-Alun Harvard. Para rombongan siswa melakukan aktivitasnya masing-masing sebelum para pembimbing mengarahkan mereka. Beberapa dari mereka selfie, duduk-duduk, dan bermain salju. Bahkan, ada pula yang ikut berkerumun melihat pertunjukkan musik tradisional Afrika.
“Berapa hari kau sini?” tanyaku ingin tahu. Sangat.
“Empat hari,” jawabnya singkat. Suasana kembali kaku. Tak tahu apa lagi yang harus dibicarakan. Semilir angin menyapu kulitku. “Ayo, kita ke sana!” Ksatria menarik tanganku tiba-tiba, menggiringku menemui rombongan siswa yang sudah berkumpul. Ternyata, Ksatria tidak sendirian mendampingi anak-anak. Pak Bintang dan Bu Alina pun ikut mendampingi anak-anak. Mereka berdua menyapaku terkejut sekaligus senang. Pertemuan yang benar-benar tak terduga.
Akhirnya, aku pun ikut mendampingi anak-anak bersama Ksatria, Pak Bintang, dan Bu Alina. Kami menyusuri Alun-Alun Harvard yang menyimpan kekayaan budaya campuran yang kental dengan kultur Eropa, Amerika, dan kultur dunia lainnya pada tiap sudutnya. Pemandangan yang sungguh indah. Aku dan Ksatria berjalan berdampingan. Terkadang, kami tak sengaja saling bertatap, kemudian langsung mengalihkan pandangan sambil menyembunyikan senyum. Tuhan mungkin punya rencana.
*****
          Dua tahun kemudian...
          Aku melewati gerbang tengah Universitas Harvard dengan perasaan haru dan bangga. Ini sudah kali kedua aku melewati gerbang ini, gerbang yang hanya boleh dilewati dua kali oleh mahasiswa Harvard. Aku sudah lulus!
          Ksatria membawakanku seikat bunga mawar putih kesukaanku. Setahun sekali ia mengunjungiku. Dan hari ini ia menjemputku untuk pulang ke tanah air. Namun, sebelum pulang, kami berjalan-jalan dengan berpegangan tangan menyusuri kampus Harvard yang menyimpan banyak sejarah, khususnya bagi kami berdua. Akhirnya, tibalah kami di Alun-Alun Harvard, Harvard Square, tempat pertama kali kami dipertemukan kembali oleh Tuhan. Menyaksikan para mahasiswa berlalu-lalang, selalu membangkitkan semangat kami untuk menuntut ilmu. Begitu bangganya aku bisa berkesempatan melanjutkan S2 di kampus paling prestisius di dunia. Sesuatu yang sungguh tak pernah kuduga.
          Rencana Tuhan begitu indah. Siapa yang menyangka aku yang sengaja merantau jauh ke Amerika agar aku bisa menjauh dari Ksatria, malah justru kami dipertemukan kembali di tempat ini?! Skenario Tuhan sungguh luar biasa, di luar batas kemampuan manusia. Kami tidak saling mencari, tetapi saling menemukan.[]

Septy Suci Kirani | Bogor–Bekasi, 23–25 Agustus 2015