ku
berdiri di antara bangunan tua yang meninggalkan banyak legenda. Lalu, melewati
gerbang tengah Universitas Harvard, gerbang yang mitosnya hanya boleh dilewati
dua kali selama menjadi mahasiswa di sini, yakni saat pertama kuliah dan saat
lulus kuliah. Aku berhasil menginjakkan kakiku di sini, Universitas Harvard,
sebagai mahasiswa S2 jurusan Education.
Rasa bangga menyelimuti hari-hariku. Dan hari ini adalah hari pertamaku kuliah.
Aku Kirana. Sebelum menempuh S2 di
Harvard, aku adalah seorang guru di salah satu sekolah swasta terbaik di
Indonesia. Keputusanku untuk resign
dari sekolah ini sempat mengalami jungkir balik. Banyak hal yang membuatku
goyah. Mulai dari orang tuaku yang tidak mau aku berada jauh dari mereka hingga
aku yang tidak mau berada jauh dari Ksatria, pemuda pintar, hebat, dan
bersahaja, yang telah lama bersemayam di hatiku. Namun, ia tak pernah peka akan
hal itu. Jadi, lebih baik aku merantau jauh ke Amerika untuk bisa melupakannya
walaupun memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Mungkin, sesulit aku
menempuh berbagai tes untuk masuk Universitas Harvard.
*****
Senja sudah menampakkan peraduannya.
Aku duduk sambil menyalakan MacBook Retina Displayku. Lalu, kubuka akun facebook-ku. Kulihat Ksatria sedang online. Tak lama kemudian, ia menulis
status, “Harvard, I’m coming....”
Mataku
terbelalak membaca status itu. Apakah Ksatria akan datang? Memang, sempat
tersiar kabar bahwa sekolah tempat kami mengajar akan mengikuti simulasi sidang
PBB, yaitu Harvard Model United Nations (HMUN) yang diselenggarakan Universitas
Harvard. Apakah Ksatria yang menjadi pembimbing anak-anak mengikuti program
ini?
Aku menyesap coklat panas marshmallow
untuk menenangkan pikiranku. Aku berusaha untuk berpikir jernih sambil
memejamkan mata. Status Ksatria di Facebook
tadi membayang-bayangiku. Ia akan ke Harvard. Tidak aneh jika Ksatria menjadi
pendamping anak-anak mengikuti program itu. Ksatria, pemuda hebat yang selalu
membuatku kagum.
*****
“At Sheraton Hotel, Boston,
Massachusetts, Amerika Serikat...”
Begitulah
status Facebook Ksatria. Saat ini ia
sedang mendampingi anak-anak mengikuti simulasi sidang PBB di Sheraton Hotel,
Boston, Massachussetts, Amerika Serikat. Cukup dekat dengan kampusku. Kedatangan
Ksatria benar-benar merusak konsentrasi belajarku. Aku menjadi tidak fokus.
Rasanya ingin sekali aku bertemu dengannya. Tapi bagaimana? Mungkin dia sedang
sangat sibuk. Aku tidak mau mengganggunya. Lebih baik aku menuju perpustakaan
untuk mempersiapkan presentasi besok pagi.
Aku menghabiskan waktu di perpustakaan
cukup lama. Aku melihat-lihat koleksi buku cetak, buku digital, hingga
foto-foto yang ada di perpustakaan ini. Jumlahnya sangat banyak. Koleksi buku
cetaknya mencapai 15 juta judul, buku digitalnya mencapai 18 juta judul, dan
foto-fotonya mencapai 8 juta buah. Tak heran mahasiswa Harvard pintar-pintar.
Semua buku yang dibutuhkan tersedia di perpustakaan ini, perpustakaan terbesar
nomor dua di dunia setelah perpustakaan Kongres Amerika Serikat.
Hari ini hanya ada tiga mata kuliah.
Semuanya cukup memeras otak. Sekarang waktunya untuk pulang. Hmm.. Tunggu! Jika
aku pulang sekarang, mungkin pikiranku akan teralihkan kembali pada Ksatria.
Apa yang harus kulakukan supaya aku tidak memikirkan Ksatria? Aku berjalan
melewati tekstur bangunan yang sangat khas, bangunan-bangunan kuno bercat merah
bata yang terurus dengan baik, dikelilingi pepohonan kering tak berdaun. Namun,
indah dilihat. Jalanannya basah dan sebagian tertutup salju. Ternyata kampus
ini sangat luas.
Lelah
sudah menggerogoti tubuhku. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 sore. Angin
berhembus cukup kencang, membuat cuaca semakin dingin. Aku membetulkan
mantelku. Aku berjalan melewati pojok jalan Massachussets Avenue. Di sebelah
kiri jalan terdapat Alun-Alun Harvard. Masyarakat di sini sering pula
menyebutnya Harvard Square. Di sana banyak mahasiswa berkerumun dan
berlalu-lalang. Penasaran, aku pun menghampiri kerumunan itu. Terdengar musik
tradisional Afrika di sana. Ternyata beberapa orang mahasiswa Harvard-lah yang
memainkan musik itu. Keren sekali. Tak heran banyak mahasiswa yang tertarik
untuk melihat pertunjukkan itu ketika melewati kawasan ini.
Tak
lama kemudian, kulihat sebuah bus berhenti di pinggir jalan, lalu menurunkan
rombongan yang sepertinya berasal dari Indonesia. Mataku terbelalak ketika
melihat salah satu pemuda yang turun dari bus itu. Ksatria!
Aku
melihatnya. Ya, aku melihat Ksatria bersama rombongan siswa sedang berjalan
menuju tempatku berdiri saat ini. Entah ia melihatku atau tidak. Jantungku
seketika berguncang hebat. Tubuhku terpaku. Aku kaku.
Lalu,
ia melihatku. Wajahnya pun terlihat terkejut ketika ia melihatku. Mungkin ia
sama terkejutnya denganku. Kemudian, ia menghampiriku.
“Kirana?!”
sapanya terkesan tak percaya.
“Akhirnya
aku bertemu denganmu, Ksatria,” ujarku datar.
“Sedang
apa kau di sini?” tanyanya penasaran.
“Aku
hanya berjalan-jalan sore,” jawabku kaku.
“Tak
kusangka aku bertemu denganmu. Dunia ini sangat sempit,” ujar Ksatria setengah
tertawa. Terkesan masih tak percaya. Aku hanya tersenyum.
“Sekolah
kita menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang mengikuti simulasi sidang PBB,
Harvard Model United Nations (HMUN) yang diselenggarakan Universitas Harvard,”
jelas Ksatria bangga.
“Sekolah
kita memang luar biasa. Membanggakan. Dan kaulah yang menjadi pembimbingnya?”
“Ya,
tentu saja. Dan aku bertemu denganmu,” wajah Ksatria sumringah. Apa dia senang
bertemu denganku? Ah sudahlah. Aku tidak perlu berharap.
“Senang
bertemu denganmu,” ujarku. Uups! Apa yang kukatakan barusan? Kenapa aku jujur
sekali?!
“Senang
bertemu denganmu juga,” balas Ksatria dengan senyum lebar. Betapa senangnya
diriku. Mata Ksatria berkeliling melihat-lihat kawasan sekitar Alun-Alun
Harvard. Para rombongan siswa melakukan aktivitasnya masing-masing sebelum para
pembimbing mengarahkan mereka. Beberapa dari mereka selfie, duduk-duduk, dan bermain salju. Bahkan, ada pula yang ikut
berkerumun melihat pertunjukkan musik tradisional Afrika.
“Berapa
hari kau sini?” tanyaku ingin tahu. Sangat.
“Empat
hari,” jawabnya singkat. Suasana kembali kaku. Tak tahu apa lagi yang harus
dibicarakan. Semilir angin menyapu kulitku. “Ayo, kita ke sana!” Ksatria
menarik tanganku tiba-tiba, menggiringku menemui rombongan siswa yang sudah
berkumpul. Ternyata, Ksatria tidak sendirian mendampingi anak-anak. Pak Bintang
dan Bu Alina pun ikut mendampingi anak-anak. Mereka berdua menyapaku terkejut
sekaligus senang. Pertemuan yang benar-benar tak terduga.
Akhirnya,
aku pun ikut mendampingi anak-anak bersama Ksatria, Pak Bintang, dan Bu Alina. Kami
menyusuri Alun-Alun Harvard yang menyimpan kekayaan budaya campuran yang kental
dengan kultur Eropa, Amerika, dan kultur dunia lainnya pada tiap sudutnya. Pemandangan
yang sungguh indah. Aku dan Ksatria berjalan berdampingan. Terkadang, kami tak
sengaja saling bertatap, kemudian langsung mengalihkan pandangan sambil
menyembunyikan senyum. Tuhan mungkin punya rencana.
*****
Dua
tahun kemudian...
Aku melewati gerbang tengah
Universitas Harvard dengan perasaan haru dan bangga. Ini sudah kali kedua aku
melewati gerbang ini, gerbang yang hanya boleh dilewati dua kali oleh mahasiswa
Harvard. Aku sudah lulus!
Ksatria membawakanku seikat bunga
mawar putih kesukaanku. Setahun sekali ia mengunjungiku. Dan hari ini ia
menjemputku untuk pulang ke tanah air. Namun, sebelum pulang, kami
berjalan-jalan dengan berpegangan tangan menyusuri kampus Harvard yang
menyimpan banyak sejarah, khususnya bagi kami berdua. Akhirnya, tibalah kami di
Alun-Alun Harvard, Harvard Square, tempat pertama kali kami dipertemukan
kembali oleh Tuhan. Menyaksikan para mahasiswa berlalu-lalang, selalu
membangkitkan semangat kami untuk menuntut ilmu. Begitu bangganya aku bisa
berkesempatan melanjutkan S2 di kampus paling prestisius di dunia. Sesuatu yang
sungguh tak pernah kuduga.
Rencana Tuhan begitu indah. Siapa yang
menyangka aku yang sengaja merantau jauh ke Amerika agar aku bisa menjauh dari
Ksatria, malah justru kami dipertemukan kembali di tempat ini?! Skenario Tuhan sungguh
luar biasa, di luar batas kemampuan manusia. Kami tidak saling mencari, tetapi
saling menemukan.[]
Septy Suci Kirani | Bogor–Bekasi, 23–25
Agustus 2015
