My Secret Admirer
Septy Suci Kirani
Sudah
tiga hari berturut-turut, Vania, gadis manis berumur 17 tahun itu mendapat kado
istimewa. Tapi sayangnya kado itu tidak ada nama pengirimnya. Yang tertulis di
kartu ucapan hanya ucapan “Untuk Vania”. Walaupun begitu, hati Vania kini
bahagia karena ia mempunyai pemuja rahasia. Vania penasaran, sebenarnya siapa
yang sudah mengirimnya bunga, coklat, dan boneka Teddy Bear Itu.
Ketika
Vania berjalan menuju kelasnya, tiba-tiba seorang cowok menabraknya dari depan.
Vania terjatuh. Cowok itu tampaknya merasa sangat bersalah karena telah
menabrak Vania. Vania meringis kasakitan. Cowok itu mencoba membantu Vania
untuk berdiri. Mata mereka bertemu. Jantung Vania berdetak begitu kencang.
Seperti orang yang habis berlari seratus meter.
Suasana
begitu hening. Cowok itu memegang tangan Vania dengan sangat erat. Tatapan
matanya sangat dalam pada Vania. Seperti cowok yang menyimpan perasaan yang
sangat dalam pada seorang gadis.
Vania
tidak menyangka hal ini bakal terjadi karena orang yang menatapnya dari tadi
adalah Bintang. Cowok yang selama ini ia sukai.
“Maaf,
tadi gue buru-buru. Jadi gue nggak ngeliat lo!” ujar Bintang memecah
keheningan. Ia melepas genggamannya dari tangan Vania. Pandangan Vania tidak
lepas dari wajah Bintang. Ia masih takjub dengan apa yang sedang terjadi pada
dirinya saat ini.
“Hallo...
lo nggak apa-apa? Kaki lo masih sakit?” tanya Bintang heran melihat gadis ini.
“Hmm?
Apa? Ta..tadi lo ngomong sama gue?” tanya Vania gagap ketika sudah tersadar
bahwa Bintang bertanya padanya.
“Iya...”
Bintang tersenyum. Senyuman yang sangat manis, pikir Vania.
“Lo
nggak apa-apa kan?” Bintang mengulangi pertanyaannya.
“Nggak
apa-apa kok,” jawab Vania sambil tersenyum menampakkan lesung pipitnya.
“Ya
udah kalau gitu gue ke sana dulu ya!” Bintang beranjak pergi meninggalkan
Vania. Vania belum beranjak dari tempat itu. Ia masih menatap Bintang dari
jauh. Andai waktu bisa diulang, pikirnya sambil senyum-senyum sendiri. Lalu, ia beranjak pergi dari
tempat itu.
*****
Saat
di kamar,
sambil melihat indahnya bintang, Vania bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya
siapa yang telah mengirimnya bunga, coklat, dan boneka Teddy Bear yang lucu
itu? Mengapa di kartu ucapan ia tidak mencantumkan namanya? Apakah benar ia
pemuja rahasia seperti yang dikatakan kedua sahabatnya pada Vania. Tapi apakah
ini sebuah teror?? Ahh... semua pikiran-pikiran aneh kini sedang berada dalam
otak Vania.
Zzzzt...
Zzzzt... handphone Vania bergetar. Oh... ada SMS. Mata Vania terbelalak ketika
membaca pesan SMS itu.
Hey Vania, apa kabar? Kamu suka dengan bunga, coklat, dan
boneka Teddy Bear yang aku kirim kemarin? Semoga aja kamu suka ya! Itu semua
aku kasih khusus buat kamu karena aku sayang kamu! I MISS YOU...!
Lagi-lagi ia tidak memberitahukan
namanya. Vania tersenyum tipis. Tapi ia kesal dengan pengirim rahasia itu. Ia
mencoba membalas SMS itu.
Hey juga! Iya aku
suka dengan semua pemberian kamu. Thanks ya! Tapi maaf ini siapa?! Tolong balas
ya!
Hampir dua jam Vania menunggu balasan
SMS. Tapi ternyata pengirim rahasia itu tidak membalasnya. Vania kesal. Dasar pengecut, pikir Vania. Ia mencoba
melupakan hal itu. Anggap saja semua ini tak terjadi. Bintang-bintang kini
sudah tak terlihat lagi. Langit mendung menutupi semuanya.
*****
Saat
jam istirahat, Vania melihat Bintang sedang duduk sendirian tepat di depan
lapangan basket. Wajahnya memancarkan aura bintang. Benar-benar sang bintang.
Cowok sekeren dia pasti tak akan lolos dari perhatian cewek-cewek.
Sebenarnya
saat ini Vania ingin sekali berkenalan dengan Bintang, tapi ia masih ragu.
Hanya cewek-cewek yang merasa dirinya cantik yang dapat mendekati Bintang.
Vania tidak merasa punya nyali yang besar untuk mendekati Bintang. Padahal, sebenarnya Vania itu
cantik, manis, dan disukai banyak orang. Tapi ia tidak menyadarinya.
Vania
mencoba menerima keadaan. Kini, ia tidak terlalu berharap banyak dengan
Bintang. Karena ia tahu, Bintang cowok populer di sekolah, pasti sangat banyak
saingan untuk mendapatkan Bintang. Namun, tatapan Bintang waktu itu terasa sangat dalam di
hati Vania. Sebelumnya, ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini. Andai pemuja rahasia itu adalah Bintang, pasti aku akan seneng banget,
batin Vania berbisik.
“Hey!”
terdengar sebuah suara yang membuyarkan lamunan Vania. Ketika Vania menoleh ke
arah sumber suara, jantungnya langsung berdebar kencang karena yang duduk di
sampingnya saat ini adalah Bintang. Vania hampir tidak percaya Bintang
mendekatinya. Lagi-lagi ia salting di hadapan Bintang.
“Hey!”
Vania membalas sapa sambil memperlihatkan lesung pipitnya yang manis.
“Sendirian
aja?” tanya Bintang sambil tersenyum.
“Iya!
Lo sendiri, nggak bareng temen-temen lo?” Vania mencoba mencari topik
pembicaraan.
“Nggak,
oh iya, ngomong-ngomong kita belum kenalan. Nama gue Bintang!” Bintang
mengulurkan tangannya pada Vania.
“Vania!”
Vania membalas uluran tangan Bintang.
“Vania...
hmm... nama lo manis ya, semanis orangnya,” puji Bintang. Wajah Vania langsung
merah. Ia tersipu malu.
“Nama
lo juga bagus, Bintang... sesuai dengan orangnya, seperti Bintang yang
memancarkan sinarnya,” Vania tersipu malu.
“Aah...
bisa aja deh... Tapi, kok lo tau nama gue? Padahal kan kita belum pernah
kenalan?”
tanya Bintang heran. Keningnya berkerut.
“Siapa
sih yang gak kenal kamu. Kamu itu kan ganteng, keren, smart, bintang sekolah, pokoknya perfect deh!” Vania merasa
ucapannya barusan terlalu berlebihan. Ia takut orang yang ada di hadapannya
saat ini mengetahui perasaannya.
Mereka
berdua tertawa. Sejak saat itu, mereka menjadi sangat akrab. Ke mana-mana selalu
bersama. Di saat mereka sedang bersama, tatapan sinis selalu mewarnai
kebersamaan mereka. Sebenarnya, Vania tidak nyaman dengan tatapan-tatapan sinis
itu. Karena
Bintanglah,
ia tetap bertahan.
*****
Siang
itu, Vania berjalan-jalan di mall bersama saudara sepupunya. Ia melihat
pernak-pernik yang lucu dan unik. Tanpa sengaja, mata jernihnya melihat Bintang
sedang berjalan menuju toko boneka. Kening Vania berkerut. Ia mencoba
menghampiri Bintang dan memanggilnya.
“Bintang...!”
teriak Vania sambil berlari. Bintang menoleh ke arah Vania. Ia terlihat sangat
terkejut. Sikapnya menjadi aneh, lain dari biasanya.
“Vania?!”
Bintang terkejut dan tersenyum tipis.
“Hey,
lagi ngapain? Lo sendirian?” tanya Vania dengan napas terengah-engah.
“Hmm...”
Bintang terlihat bingung menjawab pertanyaan Vania.
“Hmm...
pasti lo lagi cari kado ya?” Vania mencoba menebak.
“Iya!
Gue lagi nyari kado buat keponakan gue yang lagi ulang tahun,” jawab Bintang.
“Mau
gue temenin?”
“Hah?!
Mmm...” kening Bintang berkerut, seperti sedang menyimpan suatu rahasia.
“Aku
bisa kok milihin kado yang bagus buat keponakan kamu. Pasti keponakan kamu
perempuan kan?” ujar Vania sambil melihat boneka-boneka lucu.
“I...
iya”
*****
Malam
itu Vania tidak bisa tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam. Vania beranjak
dari tempat tidur dan membuka jendela kamarnya melihat indahnya bulan purnama.
Tiba-tiba terlihat seseorang mengendap-endap di halaman rumah Vania. Vania
terkejut. Jangan-jangan ia pemuja rahasia
itu, pikir Vania.
Vania
segera menuju teras sebelum orang itu pergi. Lalu, ia memanggil orang itu. “Hey...! Tunggu!” teriak
Vania.
Orang
itu terkejut. Dan...
“Bintang?!”
Vania terkejut. Matanya terbelalak. Ternyata pemuja rahasia yang selama ini ia
cari adalah Bintang. Cowok yang selama ini ia sukai.
“Jadi,
yang selama ini ngirimin semua itu... Lo?!” mata Vania berkaca-kaca. Ia masih
tidak percaya.
“Iya,
gue yang selama ini ngirimin bunga, coklat, dan boneka Teddy Bear itu, dan kado
yang gue bilang buat keponakan gue itu… sebenarnya buat lo. Gue malu ngakuin semua ini ke
lo,” Bintang mengakui semuanya.
Vania
masih terdiam. Air matanya mengalir deras. Apakah
ini mimpi? Pikir Vania.
“Mungkin
sekarang lo benci sama gue. Tapi gue belum tenang kalau belum nyatain sesuatu
ke lo. Sebenarnya udah lama banget gue suka sama lo. Malah sebelum kita
kenalan. Jadi... lo mau gak jadi pacar gue?” Bintang menatap Vania dengan
sangat dalam. Matanya sangat penuh dengan pengharapan.
“Nggak,
gue gak benci sama lo. Malah gue seneng banget. Karena yang jadi pemuja rahasia
gue selama ini adalah orang yang selama ini gue cintai. Gue mau jadi pacar lo!”
Vania tersenyum.
Bintang
langsung memeluk Vania dengan sangat erat. Bintang-bintang berkelap-kelip dan
bulan purnama yang bersinar sangat terang menjadi saksi mereka berdua.[]
Kota Bogor - 2007



