Minggu, 28 Oktober 2018

My Secret Admirer


My Secret Admirer
Septy Suci Kirani

            Sudah tiga hari berturut-turut, Vania, gadis manis berumur 17 tahun itu mendapat kado istimewa. Tapi sayangnya kado itu tidak ada nama pengirimnya. Yang tertulis di kartu ucapan hanya ucapan “Untuk Vania”. Walaupun begitu, hati Vania kini bahagia karena ia mempunyai pemuja rahasia. Vania penasaran, sebenarnya siapa yang sudah mengirimnya bunga, coklat, dan boneka Teddy Bear Itu.
            Ketika Vania berjalan menuju kelasnya, tiba-tiba seorang cowok menabraknya dari depan. Vania terjatuh. Cowok itu tampaknya merasa sangat bersalah karena telah menabrak Vania. Vania meringis kasakitan. Cowok itu mencoba membantu Vania untuk berdiri. Mata mereka bertemu. Jantung Vania berdetak begitu kencang. Seperti orang yang habis berlari seratus meter.
            Suasana begitu hening. Cowok itu memegang tangan Vania dengan sangat erat. Tatapan matanya sangat dalam pada Vania. Seperti cowok yang menyimpan perasaan yang sangat dalam pada seorang gadis.
            Vania tidak menyangka hal ini bakal terjadi karena orang yang menatapnya dari tadi adalah Bintang. Cowok yang selama ini ia sukai.
            “Maaf, tadi gue buru-buru. Jadi gue nggak ngeliat lo!” ujar Bintang memecah keheningan. Ia melepas genggamannya dari tangan Vania. Pandangan Vania tidak lepas dari wajah Bintang. Ia masih takjub dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini.
            “Hallo... lo nggak apa-apa? Kaki lo masih sakit?” tanya Bintang heran melihat gadis ini.
            “Hmm? Apa? Ta..tadi lo ngomong sama gue?” tanya Vania gagap ketika sudah tersadar bahwa Bintang bertanya padanya.
            “Iya...” Bintang tersenyum. Senyuman yang sangat manis, pikir Vania.
            “Lo nggak apa-apa kan?” Bintang mengulangi pertanyaannya.
            “Nggak apa-apa kok,” jawab Vania sambil tersenyum menampakkan lesung pipitnya.
            “Ya udah kalau gitu gue ke sana dulu ya!” Bintang beranjak pergi meninggalkan Vania. Vania belum beranjak dari tempat itu. Ia masih menatap Bintang dari jauh. Andai waktu bisa diulang, pikirnya sambil senyum-senyum sendiri. Lalu, ia beranjak pergi dari tempat itu.
*****
            Saat di kamar, sambil melihat indahnya bintang, Vania bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya siapa yang telah mengirimnya bunga, coklat, dan boneka Teddy Bear yang lucu itu? Mengapa di kartu ucapan ia tidak mencantumkan namanya? Apakah benar ia pemuja rahasia seperti yang dikatakan kedua sahabatnya pada Vania. Tapi apakah ini sebuah teror?? Ahh... semua pikiran-pikiran aneh kini sedang berada dalam otak Vania.
            Zzzzt... Zzzzt... handphone Vania bergetar. Oh... ada SMS. Mata Vania terbelalak ketika membaca pesan SMS itu.
Hey Vania, apa kabar? Kamu suka dengan bunga, coklat, dan boneka Teddy Bear yang aku kirim kemarin? Semoga aja kamu suka ya! Itu semua aku kasih khusus buat kamu karena aku sayang kamu! I MISS YOU...!
  
Lagi-lagi ia tidak memberitahukan namanya. Vania tersenyum tipis. Tapi ia kesal dengan pengirim rahasia itu. Ia mencoba membalas SMS itu.
Hey juga!  Iya aku suka dengan semua pemberian kamu. Thanks ya! Tapi maaf ini siapa?! Tolong balas ya!
           
Hampir dua jam Vania menunggu balasan SMS. Tapi ternyata pengirim rahasia itu tidak membalasnya. Vania kesal. Dasar pengecut, pikir Vania. Ia mencoba melupakan hal itu. Anggap saja semua ini tak terjadi. Bintang-bintang kini sudah tak terlihat lagi. Langit mendung menutupi semuanya.
*****
            Saat jam istirahat, Vania melihat Bintang sedang duduk sendirian tepat di depan lapangan basket. Wajahnya memancarkan aura bintang. Benar-benar sang bintang. Cowok sekeren dia pasti tak akan lolos dari perhatian cewek-cewek.
            Sebenarnya saat ini Vania ingin sekali berkenalan dengan Bintang, tapi ia masih ragu. Hanya cewek-cewek yang merasa dirinya cantik yang dapat mendekati Bintang. Vania tidak merasa punya nyali yang besar untuk mendekati Bintang. Padahal, sebenarnya Vania itu cantik, manis, dan disukai banyak orang. Tapi ia tidak menyadarinya.
            Vania mencoba menerima keadaan. Kini, ia tidak terlalu berharap banyak dengan Bintang. Karena ia tahu, Bintang cowok populer di sekolah, pasti sangat banyak saingan untuk mendapatkan Bintang. Namun, tatapan Bintang waktu itu terasa sangat dalam di hati Vania. Sebelumnya, ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini. Andai pemuja rahasia itu adalah Bintang, pasti aku akan seneng banget, batin Vania berbisik.
            “Hey!” terdengar sebuah suara yang membuyarkan lamunan Vania. Ketika Vania menoleh ke arah sumber suara, jantungnya langsung berdebar kencang karena yang duduk di sampingnya saat ini adalah Bintang. Vania hampir tidak percaya Bintang mendekatinya. Lagi-lagi ia salting di hadapan Bintang.
            “Hey!” Vania membalas sapa sambil memperlihatkan lesung pipitnya yang manis.
            “Sendirian aja?” tanya Bintang sambil tersenyum.
            “Iya! Lo sendiri, nggak bareng temen-temen lo?” Vania mencoba mencari topik pembicaraan.
            “Nggak, oh iya, ngomong-ngomong kita belum kenalan. Nama gue Bintang!” Bintang mengulurkan tangannya pada Vania.
            “Vania!” Vania membalas uluran tangan Bintang.
            “Vania... hmm... nama lo manis ya, semanis orangnya,” puji Bintang. Wajah Vania langsung merah. Ia tersipu malu.
            “Nama lo juga bagus, Bintang... sesuai dengan orangnya, seperti Bintang yang memancarkan sinarnya,” Vania tersipu malu.
            “Aah... bisa aja deh... Tapi, kok lo tau nama gue? Padahal kan kita belum pernah kenalan?” tanya Bintang heran. Keningnya berkerut.
            “Siapa sih yang gak kenal kamu. Kamu itu kan ganteng, keren, smart, bintang sekolah, pokoknya perfect deh!” Vania merasa ucapannya barusan terlalu berlebihan. Ia takut orang yang ada di hadapannya saat ini mengetahui perasaannya.
            Mereka berdua tertawa. Sejak saat itu, mereka menjadi sangat akrab. Ke mana-mana selalu bersama. Di saat mereka sedang bersama, tatapan sinis selalu mewarnai kebersamaan mereka. Sebenarnya, Vania tidak nyaman dengan tatapan-tatapan sinis itu. Karena Bintanglah, ia tetap bertahan.
*****
            Siang itu, Vania berjalan-jalan di mall bersama saudara sepupunya. Ia melihat pernak-pernik yang lucu dan unik. Tanpa sengaja, mata jernihnya melihat Bintang sedang berjalan menuju toko boneka. Kening Vania berkerut. Ia mencoba menghampiri Bintang dan memanggilnya.
            “Bintang...!” teriak Vania sambil berlari. Bintang menoleh ke arah Vania. Ia terlihat sangat terkejut. Sikapnya menjadi aneh, lain dari biasanya.
            “Vania?!” Bintang terkejut dan tersenyum tipis.
            “Hey, lagi ngapain? Lo sendirian?” tanya Vania dengan napas terengah-engah.
            “Hmm...” Bintang terlihat bingung menjawab pertanyaan Vania.
            “Hmm... pasti lo lagi cari kado ya?” Vania mencoba menebak.
            “Iya! Gue lagi nyari kado buat keponakan gue yang lagi ulang tahun,” jawab Bintang.
            “Mau gue temenin?”
            “Hah?! Mmm...” kening Bintang berkerut, seperti sedang menyimpan suatu rahasia.
            “Aku bisa kok milihin kado yang bagus buat keponakan kamu. Pasti keponakan kamu perempuan kan?” ujar Vania sambil melihat boneka-boneka lucu.
            “I... iya”
*****
            Malam itu Vania tidak bisa tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam. Vania beranjak dari tempat tidur dan membuka jendela kamarnya melihat indahnya bulan purnama. Tiba-tiba terlihat seseorang mengendap-endap di halaman rumah Vania. Vania terkejut. Jangan-jangan ia pemuja rahasia itu, pikir Vania.
            Vania segera menuju teras sebelum orang itu pergi. Lalu, ia memanggil orang itu. “Hey...! Tunggu!” teriak Vania.
            Orang itu terkejut. Dan...
            “Bintang?!” Vania terkejut. Matanya terbelalak. Ternyata pemuja rahasia yang selama ini ia cari adalah Bintang. Cowok yang selama ini ia sukai.
            “Jadi, yang selama ini ngirimin semua itu... Lo?!” mata Vania berkaca-kaca. Ia masih tidak percaya.
            “Iya, gue yang selama ini ngirimin bunga, coklat, dan boneka Teddy Bear itu, dan kado yang gue bilang buat keponakan gue itu sebenarnya buat lo. Gue malu ngakuin semua ini ke lo,” Bintang mengakui semuanya.
            Vania masih terdiam. Air matanya mengalir deras. Apakah ini mimpi? Pikir Vania.
            “Mungkin sekarang lo benci sama gue. Tapi gue belum tenang kalau belum nyatain sesuatu ke lo. Sebenarnya udah lama banget gue suka sama lo. Malah sebelum kita kenalan. Jadi... lo mau gak jadi pacar gue?” Bintang menatap Vania dengan sangat dalam. Matanya sangat penuh dengan pengharapan.
            “Nggak, gue gak benci sama lo. Malah gue seneng banget. Karena yang jadi pemuja rahasia gue selama ini adalah orang yang selama ini gue cintai. Gue mau jadi pacar lo!” Vania tersenyum.
            Bintang langsung memeluk Vania dengan sangat erat. Bintang-bintang berkelap-kelip dan bulan purnama yang bersinar sangat terang menjadi saksi mereka berdua.[]

Kota Bogor - 2007


Minggu, 03 April 2016

Kirana dan Ksatria

Ketika Cinta Tak Saling Mencari,
Ketika Itu Pula Cinta Saling Menemukan
A
ku berdiri di antara bangunan tua yang meninggalkan banyak legenda. Lalu, melewati gerbang tengah Universitas Harvard, gerbang yang mitosnya hanya boleh dilewati dua kali selama menjadi mahasiswa di sini, yakni saat pertama kuliah dan saat lulus kuliah. Aku berhasil menginjakkan kakiku di sini, Universitas Harvard, sebagai mahasiswa S2 jurusan Education. Rasa bangga menyelimuti hari-hariku. Dan hari ini adalah hari pertamaku kuliah.
          Aku Kirana. Sebelum menempuh S2 di Harvard, aku adalah seorang guru di salah satu sekolah swasta terbaik di Indonesia. Keputusanku untuk resign dari sekolah ini sempat mengalami jungkir balik. Banyak hal yang membuatku goyah. Mulai dari orang tuaku yang tidak mau aku berada jauh dari mereka hingga aku yang tidak mau berada jauh dari Ksatria, pemuda pintar, hebat, dan bersahaja, yang telah lama bersemayam di hatiku. Namun, ia tak pernah peka akan hal itu. Jadi, lebih baik aku merantau jauh ke Amerika untuk bisa melupakannya walaupun memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Mungkin, sesulit aku menempuh berbagai tes untuk masuk Universitas Harvard.
*****
          Senja sudah menampakkan peraduannya. Aku duduk sambil menyalakan MacBook Retina Displayku. Lalu, kubuka akun facebook-ku. Kulihat Ksatria sedang online. Tak lama kemudian, ia menulis status, “Harvard, I’m coming....”
          Mataku terbelalak membaca status itu. Apakah Ksatria akan datang? Memang, sempat tersiar kabar bahwa sekolah tempat kami mengajar akan mengikuti simulasi sidang PBB, yaitu Harvard Model United Nations (HMUN) yang diselenggarakan Universitas Harvard. Apakah Ksatria yang menjadi pembimbing anak-anak mengikuti program ini?
          Aku menyesap coklat panas marshmallow untuk menenangkan pikiranku. Aku berusaha untuk berpikir jernih sambil memejamkan mata. Status Ksatria di Facebook tadi membayang-bayangiku. Ia akan ke Harvard. Tidak aneh jika Ksatria menjadi pendamping anak-anak mengikuti program itu. Ksatria, pemuda hebat yang selalu membuatku kagum.
*****
“At Sheraton Hotel, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat...”
Begitulah status Facebook Ksatria. Saat ini ia sedang mendampingi anak-anak mengikuti simulasi sidang PBB di Sheraton Hotel, Boston, Massachussetts, Amerika Serikat. Cukup dekat dengan kampusku. Kedatangan Ksatria benar-benar merusak konsentrasi belajarku. Aku menjadi tidak fokus. Rasanya ingin sekali aku bertemu dengannya. Tapi bagaimana? Mungkin dia sedang sangat sibuk. Aku tidak mau mengganggunya. Lebih baik aku menuju perpustakaan untuk mempersiapkan presentasi besok pagi.
          Aku menghabiskan waktu di perpustakaan cukup lama. Aku melihat-lihat koleksi buku cetak, buku digital, hingga foto-foto yang ada di perpustakaan ini. Jumlahnya sangat banyak. Koleksi buku cetaknya mencapai 15 juta judul, buku digitalnya mencapai 18 juta judul, dan foto-fotonya mencapai 8 juta buah. Tak heran mahasiswa Harvard pintar-pintar. Semua buku yang dibutuhkan tersedia di perpustakaan ini, perpustakaan terbesar nomor dua di dunia setelah perpustakaan Kongres Amerika Serikat.
          Hari ini hanya ada tiga mata kuliah. Semuanya cukup memeras otak. Sekarang waktunya untuk pulang. Hmm.. Tunggu! Jika aku pulang sekarang, mungkin pikiranku akan teralihkan kembali pada Ksatria. Apa yang harus kulakukan supaya aku tidak memikirkan Ksatria? Aku berjalan melewati tekstur bangunan yang sangat khas, bangunan-bangunan kuno bercat merah bata yang terurus dengan baik, dikelilingi pepohonan kering tak berdaun. Namun, indah dilihat. Jalanannya basah dan sebagian tertutup salju. Ternyata kampus ini sangat luas.
Lelah sudah menggerogoti tubuhku. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 sore. Angin berhembus cukup kencang, membuat cuaca semakin dingin. Aku membetulkan mantelku. Aku berjalan melewati pojok jalan Massachussets Avenue. Di sebelah kiri jalan terdapat Alun-Alun Harvard. Masyarakat di sini sering pula menyebutnya Harvard Square. Di sana banyak mahasiswa berkerumun dan berlalu-lalang. Penasaran, aku pun menghampiri kerumunan itu. Terdengar musik tradisional Afrika di sana. Ternyata beberapa orang mahasiswa Harvard-lah yang memainkan musik itu. Keren sekali. Tak heran banyak mahasiswa yang tertarik untuk melihat pertunjukkan itu ketika melewati kawasan ini.
Tak lama kemudian, kulihat sebuah bus berhenti di pinggir jalan, lalu menurunkan rombongan yang sepertinya berasal dari Indonesia. Mataku terbelalak ketika melihat salah satu pemuda yang turun dari bus itu. Ksatria!
Aku melihatnya. Ya, aku melihat Ksatria bersama rombongan siswa sedang berjalan menuju tempatku berdiri saat ini. Entah ia melihatku atau tidak. Jantungku seketika berguncang hebat. Tubuhku terpaku. Aku kaku.
Lalu, ia melihatku. Wajahnya pun terlihat terkejut ketika ia melihatku. Mungkin ia sama terkejutnya denganku. Kemudian, ia menghampiriku.
“Kirana?!” sapanya terkesan tak percaya.
“Akhirnya aku bertemu denganmu, Ksatria,” ujarku datar.
“Sedang apa kau di sini?” tanyanya penasaran.
“Aku hanya berjalan-jalan sore,” jawabku kaku.
“Tak kusangka aku bertemu denganmu. Dunia ini sangat sempit,” ujar Ksatria setengah tertawa. Terkesan masih tak percaya. Aku hanya tersenyum.
“Sekolah kita menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang mengikuti simulasi sidang PBB, Harvard Model United Nations (HMUN) yang diselenggarakan Universitas Harvard,” jelas Ksatria bangga.
“Sekolah kita memang luar biasa. Membanggakan. Dan kaulah yang menjadi pembimbingnya?”
“Ya, tentu saja. Dan aku bertemu denganmu,” wajah Ksatria sumringah. Apa dia senang bertemu denganku? Ah sudahlah. Aku tidak perlu berharap.
“Senang bertemu denganmu,” ujarku. Uups! Apa yang kukatakan barusan? Kenapa aku jujur sekali?!
“Senang bertemu denganmu juga,” balas Ksatria dengan senyum lebar. Betapa senangnya diriku. Mata Ksatria berkeliling melihat-lihat kawasan sekitar Alun-Alun Harvard. Para rombongan siswa melakukan aktivitasnya masing-masing sebelum para pembimbing mengarahkan mereka. Beberapa dari mereka selfie, duduk-duduk, dan bermain salju. Bahkan, ada pula yang ikut berkerumun melihat pertunjukkan musik tradisional Afrika.
“Berapa hari kau sini?” tanyaku ingin tahu. Sangat.
“Empat hari,” jawabnya singkat. Suasana kembali kaku. Tak tahu apa lagi yang harus dibicarakan. Semilir angin menyapu kulitku. “Ayo, kita ke sana!” Ksatria menarik tanganku tiba-tiba, menggiringku menemui rombongan siswa yang sudah berkumpul. Ternyata, Ksatria tidak sendirian mendampingi anak-anak. Pak Bintang dan Bu Alina pun ikut mendampingi anak-anak. Mereka berdua menyapaku terkejut sekaligus senang. Pertemuan yang benar-benar tak terduga.
Akhirnya, aku pun ikut mendampingi anak-anak bersama Ksatria, Pak Bintang, dan Bu Alina. Kami menyusuri Alun-Alun Harvard yang menyimpan kekayaan budaya campuran yang kental dengan kultur Eropa, Amerika, dan kultur dunia lainnya pada tiap sudutnya. Pemandangan yang sungguh indah. Aku dan Ksatria berjalan berdampingan. Terkadang, kami tak sengaja saling bertatap, kemudian langsung mengalihkan pandangan sambil menyembunyikan senyum. Tuhan mungkin punya rencana.
*****
          Dua tahun kemudian...
          Aku melewati gerbang tengah Universitas Harvard dengan perasaan haru dan bangga. Ini sudah kali kedua aku melewati gerbang ini, gerbang yang hanya boleh dilewati dua kali oleh mahasiswa Harvard. Aku sudah lulus!
          Ksatria membawakanku seikat bunga mawar putih kesukaanku. Setahun sekali ia mengunjungiku. Dan hari ini ia menjemputku untuk pulang ke tanah air. Namun, sebelum pulang, kami berjalan-jalan dengan berpegangan tangan menyusuri kampus Harvard yang menyimpan banyak sejarah, khususnya bagi kami berdua. Akhirnya, tibalah kami di Alun-Alun Harvard, Harvard Square, tempat pertama kali kami dipertemukan kembali oleh Tuhan. Menyaksikan para mahasiswa berlalu-lalang, selalu membangkitkan semangat kami untuk menuntut ilmu. Begitu bangganya aku bisa berkesempatan melanjutkan S2 di kampus paling prestisius di dunia. Sesuatu yang sungguh tak pernah kuduga.
          Rencana Tuhan begitu indah. Siapa yang menyangka aku yang sengaja merantau jauh ke Amerika agar aku bisa menjauh dari Ksatria, malah justru kami dipertemukan kembali di tempat ini?! Skenario Tuhan sungguh luar biasa, di luar batas kemampuan manusia. Kami tidak saling mencari, tetapi saling menemukan.[]

Septy Suci Kirani | Bogor–Bekasi, 23–25 Agustus 2015 

Jumat, 21 Agustus 2015

CERPEN "MURIDKU, SEMANGATKU!

Muridku, Semangatku!

Septy Suci Kirani, S.Pd.




Berbinar rasa bagai cahaya
Mengukir asa bagi pelita
Berderap-derap api semangat
Tuk jadikanmu orang-orang hebat

Selamat Hari Guru!
Tulisan itu terpampang jelas di depan mataku. Biasa saja. Bagiku tak istimewa. Dengan mengenakan jas biru, kami, para guru, melangkah beriringan dengan OSIS yang mengawal kami dengan membawa bendera menuju hall, tempat kami akan memperingati Hari Guru. Terdengar suara perkusi yang siap menyambut kami. Suaranya megah membahana.
Sesampainya di hall, kami disambut meriah oleh para murid. Mereka bersorak meneriakkan nama guru favorit mereka sambil membawa balon bertuliskan “Happy Teacher’s Day!”. Namun, tak ada satu pun murid yang meneriakkan namaku.
Sebenarnya, aku iri dengan teman-temanku yang diteriakkan namanya oleh murid-murid, tapi aku pura-pura tak peduli. Aku tetap menyunggingkan senyum terbaikku seolah banyak murid yang mengidolakanku. Kami berjalan layaknya sang idola menuju tempat duduk yang telah disediakan. Senyumku masih mengembang.
Acara pun dimulai dengan sambutan-sambutan, yang dimulai dari ketua pelaksana, perwakilan POMG, dan kepala sekolah. Kemudian, dilanjutkan dengan hiburan-hiburan dan pembacaan nominasi guru yang terdiri atas nominasi guru tercantik, guru terganteng, guru terasyik, guru termodis, guru terbaik, guru terfavorit, dan guru tereksis. Ketika nominasi dibacakan oleh perwakilan OSIS, ada harap-harap cemas apakah aku menjadi salah satu nominasi. Sejenak aku lupa dengan rasa iriku. Hasilnya? Jangankan menjadi pemenang, masuk nominasi pun tidak.
Akhirnya, kami tiba di puncak acara. Para OSIS bernyanyi lagu “Terima Kasih Guruku”. Lalu, Sang Ketua OSIS memberikan penghargaan berupa kumpulan foto guru berbentuk hati kepada kepala sekolah. Setelah itu, kami, para guru dipersilakan untuk berdiri dan berjejer rapi di depan panggung. Tim Paduan Suara mulai bernyanyi. Mereka menyanyikan lagu “Hero – Mariah Carey”. OSIS memberikan sekuntum bunga mawar merah kepada guru favorit mereka. Aku ingin bunga itu. Kuharap ada siswa yang memberi bunga kepadaku. Namun, tak satu pun OSIS memberikan bunga kepadaku, sedangkan guru lain ada yang mendapat bunga lebih dari satu. Ini tidak adil!
Setelah OSIS selesai memberikan bunga, para siswa berbaris untuk bersalaman dengan guru-guru. Masing-masing dari mereka membawa surat untuk guru-guru favorit mereka. Sejak Tim Paduan Suara bernyanyi hingga suara mereka hanya sayup-sayup, aku belum mendapatkan apa-apa, baik bunga maupun surat. Bagaimana ini? Aku malu. Bagaimana jika ada murid atau guru lain melihatku yang tidak mendapat apa-apa? Aku malu. Guru-guru lain mendapatkan semua yang aku inginkan: bunga, balon, dan surat, sementara tanganku masih kosong. Aku mulai hampa. Tunggu sebentar! Mengapa aku mengharapkan itu semua? Apakah aku pamrih? Seharusnya, aku tak boleh pamrih. Apalah arti semua itu jika aku tak bisa mengajar mereka dengan baik.
Aku bertanya-tanya dalam hati. Mengapa hal ini terjadi kepadaku? Mungkinkah tak ada satu pun murid yang terkesan kepadaku? Pertanyaan ini membuatku teringat masa lalu ketika salah satu muridku terang-terangan berkata kepadaku bahwa aku membosankan dan membuat mereka mengantuk setiap kali aku mengajar di dalam kelas. Mungkin itu memang benar. Aku menunduk lesu. Ingin segera acara ini berakhir.
Ketika aku menunduk lesu, tiba-tiba seorang murid menghampiriku. Ia membawa seikat bunga mawar dan memberikan bunga itu kepadaku. Senyumnya manis bagai bunga mawar yang ia beri. Dia salah satu murid yang pintar di pelajaranku. Aku sangat senang. Semangatku telah kembali! Tak lama setelah itu, muridku yang pernah mengatakan bahwa aku membosankan mendapat giliran untuk bersalaman denganku dan tak disangka pula ia memberikan sebuah surat kepadaku. Semangatku bertambah lagi!
Acara pun berakhir. Senyumku masih lebar, senang mendapat apresiasi dari murid-murid. Akhirnya, aku mendapatkan seikat mawar merah, dua surat, dan sebuah balon bertuliskan “Happy Teacher’s Day!”. Walaupun temanku ada yang mendapatkan apresiasi lebih banyak daripada diriku, aku tetap senang. Setidaknya, aku kembali ke ruang guru tidak dengan tangan kosong.
Sesampainya di ruang guru, kubuka surat dari murid-muridku. Di dalam surat itu, mereka membuatku terkesan. Mereka mengatakan bahwa mereka sangat menyukaiku mengajar walaupun terkadang membosankan yang membuatku teringat kembali kritikan muridku itu, “Ibu kalau ngajar serius banget, bikin ngantuk.”
Menyakitkan, tetapi memotivasi. Menurutku, itu sebuah kritikan yang membangun. Sejak mendengar kritikan itu, semangatku memuncak. Aku menjadi termotivasi untuk menjadi guru yang terbaik bagi mereka. Dalam hal ini, kuncinya adalah mengajar dari hati, dengan iman, ilmu, dan amal. Tuntutanku adalah selalu kreatif dalam mengajar yang memang ditunjang oleh kurikulum saat ini, Kurikulum 2013.

Terima kasih muridku
Kau buatku semangat kembali
Tak lelah menyambut pagi
Menempuh hari dengan hati


           

           



PUISI "PESAN DARI MASA DEPAN"

                 Pesan dari Masa Depan





Berdiri di tengah keramaian
Kulihat persaingan semakin tajam
Lengah membuatku tersesat di tengah jalan
Oohh… dunia ini semakin kejam!

Tidak!
Sekarang masih silam
Itu pesan dari masa depan
Datang pada mimpiku semalam

Masa muda takkan kusia-siakan
Aku tak mau menyesal
Masa muda takkan kembali di masa depan
Silamku takkan kubiarkan jadi sesal

Biarkan detik menemani perjalanan
Mengubah harapan jadi kenyataan
Biarkan peluh jadi sebuah perjuangan
Menjawab pesan dari masa depan


Kota Bekasi, 27 November 2014

Septy Suci Kirani, S.Pd.

CERPEN "SPY OF LOVE"

Spy of Love

Septy Suci Kirani




Malam itu, di sebuah taman, kulihat dua matahari berpendar-pendar dan seolah jaraknya sangat dekat denganku. Keduanya sama-sama memancarkan cahaya yang sangat indah. Namun, semakin lama salah satu di antaranya memudar hingga akhirnya menghilang. Kini, hanya ada satu matahari. Masih berpendar-pendar. Tak lama kemudian, matahari itu memudar hingga akhirnya pun menghilang. Langit menjadi gelap. Sangat gelap.
            Seketika langit gelap itu berubah menjadi terang. Sangat terang. Kulihat bintang-bintang di sana. Sangat banyak. Tak terhitung jumlahnya. Ukuran dan bentuknya pun beragam. Semuanya berkelap-kelip sangat indah bagai permata yang memancarkan cahaya. Aku takjub melihatnya.
            Di saat yang sama, dari kejauhan kulihat sebuah bintang besar mendekatiku. Dalam hitungan detik, bintang besar itu jatuh tepat di sampingku. Aku tidak menjauh. Kakiku seolah tak bisa bergerak. Aku terpaku melihat kejadian ini. Tiba-tiba aku teringat sebuah mitos tentang melihat bintang jatuh. Mitos itu mengatakan bahwa jika kau melihat bintang jatuh, maka tak lama lagi permintaanmu tentang sesuatu akan segera dikabulkan. Tanpa berpikir lagi, aku pun langsung berdoa agar aku segera dipertemukan dengan belahan jiwaku. Aku sangat merindukannya walaupun aku belum tahu siapa belahan jiwaku.
            Seolah langsung dikabulkan oleh Tuhan, kulihat sesosok pria dari kejauhan berdiri membelakangiku. Sepertinya aku mengenalnya. Sosok itu tidak asing bagiku. Namun, misterius. Aku pun langsung berlari ke arahnya dan memeluknya dengan erat. Siapakah sosok itu?
¯¯¯
            Jam sudah menunjukkan pukul 04.30 WIB. Aku terbangun dari tidurku dan teringat kejadian menakjubkan itu. Ternyata itu hanya mimpi. Mimpi yang begitu nyata. Mimpi yang begitu indah. Ingin rasanya kuulang mimpi itu kembali. Senyum kecil tersirat di wajahku ketika sosok itu muncul kembali dalam benakku. Siapakah sosok itu? Aku bertanya-tanya dalam hati. Rasa penasaran langsung merasuki jiwaku. Entah mengapa aku langsung merasa bahwa tak lama lagi aku bertemu dengan belahan jiwaku. Entah mengapa pula aku merasa bahwa sosok misterius di mimpi itu adalah belahan jiwaku. Tapi, mengapa tidak mirip dengan Zhafran, pacarku? Sosok itu malah mirip dengan Rayyan.
            Rayyan. Di mana ia sekarang? Ia seolah menghilang ditelan bumi semenjak pertengkaran kami dua tahun lalu. Aku pun membiarkannya menghilang begitu saja. Ada atau tidak ada dia, tak masalah bagiku. Lagipula, ia sosok yang begitu misterius. Ia mengetahui segala hal tentangku, tapi aku tak mengetahui segala hal tentangnya. Ia selalu membiarkanku lelah karena rasa penasaranku kepadanya. Hingga akhirnya aku benar-benar lelah dan memutuskan untuk membiarkannya pergi dari kehidupanku.
            Sebenarnya, aku merasa bersalah dengan sikapku ini terhadap Rayyan. Kuakui, aku menyukainya, bahkan mungkin aku mulai menyayanginya. Padahal, aku masih mempunyai Zhafran, pacarku yang selalu setia bersamaku. Namun, entah mengapa perasaan sayangku kepada Zhafran semakin lama semakin memudar. Aku pun tak mengerti dengan diriku sendiri. Walaupun Rayyan sudah menghilang, sosoknya masih saja membayangiku. Entahlah.
            Aku selalu berusaha untuk mencintai Zhafran seutuhnya, tapi sosok Rayyan selalu terbayang-bayang. Jika aku harus memilih di antara keduanya pun, aku lebih memilih ….
            “Kyra, bangun. Nanti kau terlambat.” Suara mama menyadarkan lamunanku. Aku pun segera beranjak dari tempat tidurku.
            “Ia, Ma,” jawabku.     
Hari ini sekolah musikku mengadakan konser piano. Aku salah satu pesertanya. Walaupun konsernya dimulai pukul 13.00 WIB, aku harus tetap datang pagi untuk gladi resik. Dua bulan lebih aku mempersiapkan diri untuk konser ini. Hampir setiap hari, sepulang kuliah aku berlatih piano di Zeus, sekolah musikku.  Hampir setiap hari pula Zhafran menemaniku latihan sambil menyusun skripsinya. Beberapa bulan lagi ia wisuda dan rencananya akan melanjutkan S2 di Jepang. Namun, sudah seminggu terakhir menjelang konser piano ini, Zhafran tidak menemaniku latihan karena sibuk mempersiapkan untuk sidang. Tidak hanya tak bisa menemaniku latihan, tetapi juga ia menjadi jarang menghubungiku. Mungkin ia memang sedang sangat sibuk. Aku pun tidak mau mengganggunya. Aku membiarkannya fokus dengan skripsinya dulu.
Akan tetapi, satu hal yang masih mengganggu pikiranku saat ini adalah Zhafran sama sekali belum menghubungiku apakah ia akan datang atau tidak ke konser pianoku atau hanya sekadar berbasa-basi untuk memberikanku motivasi. Tidak seperti biasanya. Bahkan, ketika aku yang menghubunginya pun ia tidak merespons. Berbagai pikiran negatif tentangnya mulai mengganggu pikiranku. Namun, aku mencoba untuk bersikap dewasa. Aku harus selalu berpikir positif.
¯¯¯
            Sepuluh menit lagi konser dimulai, tetapi belum juga ada kabar dari Zhafran. Aku mulai kesal. Berkali-kali aku mencoba meneleponnya. Namun, suara operatorlah yang kudapat. Nomornya tidak aktif. Ia pun tidak membalas SMS, BBM, atau Whatsapp dariku. Mengapa dia begitu? Aku bertanya-tanya dalam hati. Aku sangat ingin ia melihatku bermain piano dalam konser ini sebab ini adalah salah satu konser piano terbesar dalam sejarah perkembangan Zeus. Aku ingin ia terkagum-kagum melihat kelihaianku dalam bermain piano di atas panggung seperti Yiruma, pianis idolaku.
            “Ada apa denganmu, Kyra?” tanya Kayla, sahabatku, ketika aku sedang mencengkeram kuat ponselku.
            “Aku tidak apa-apa,” jawabku sambil tersenyum tipis.
            “Apakah kau gugup?” tanya Kayla yang sepertinya mulai cemas denganku. Kayla sudah sangat mengenalku. Kami sudah bersahabat sejak SMP. Walaupun aku sudah berusaha menyembunyikan permasalahanku, ia selalu bisa memprediksi apa yang sedang terjadi padaku dan prediksinya selalu benar.
            “Zhafran menghilang. Ia tidak bisa dihubungi,” jelasku.
            “Jadi, ia tidak akan datang?” tanya Kayla dengan kening berkerut.
            “Sepertinya begitu,” jawabku murung sambil menghela napas.
            “Jangan sampai masalah ini menjadikanmu tidak fokus. Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak fokus?”
            “Ya, aku tahu. Permainanku akan kacau dan itu membuatku takut.”
            Suara MC yang sedang membuka acara sudah terdengar. Acara sudah dimulai. Dalam pembukaan ini, aku dan peserta konser lainnya naik ke atas panggung untuk diperkenalkan oleh MC. Ketika kakiku melangkah naik ke atas panggung, kulihat sosok yang sepertinya kukenal. Namun, sosok di kursi penonton itu bukan Zhafran, melainkan Rayyan. Kubuka mataku lebar-lebar. Memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Ternyata memang benar, itu Rayyan. Senyum lebar tersungging di wajahku. Entah mengapa keberadaannya saat ini membangkitkan semangatku. Sejenak aku lupa dengan Zhafran.
            Rayyan memang selalu tahu tentangku. Aku tidak pernah memberitahunya tentang konser piano ini. Kedatangannya sangat mengejutkanku. Bagaimana ia bisa tahu? Padahal, kami sudah lama lost contact. Ia pun sudah menghilang dalam waktu yang cukup lama bagiku, dua tahun. Lalu, sekarang ia muncul kembali. Apakah ia selalu mencari tahu tentangku? Entahlah. Jika memang begitu, untuk apa dia mencari tahu tentangku? Sejak dulu aku mengenalnya sebagai sosok yang misterius. Sangat misterius. Identitasnya pun sulit diketahui. Berkali-kali aku berusaha mencari informasi tentangnya di berbagai sosial media, tetapi hasilnya nihil. Hingga akhirnya aku menyerah dan membiarkannya tetap menjadi sosok yang misterius.
¯¯¯
            Senyum lebar menghiasi wajahku. Aku sangat puas dengan penampilanku barusan. Aku membawakan lagu River Flows in You. Permainanku sangat mulus, tanpa cacat sedikit pun. Tepuk tangan meriah menggema dan menggetarkan suasana di gedung konser ketika aku selesai bermain piano, setelah sebelumnya sangat hening ketika aku sangat lihai menekan tuts-tuts piano. Aku bisa merasakan penonton terkesima dengan lantunan nada River Flows in You yang kumainkan. Seandainya Zhafran melihatku, ia pasti sangat kagum kepadaku. Perasaan kecewa kembali merasuki batinku.
            Ketika aku hendak mencoba kembali menelepon Zhafran, aku dikejutkan oleh suara orang yang memanggil namaku, yang kedengarannya tidak jauh dariku, suara yang sangat kukenal.
            “Kyra.. Bagaimana kabarmu?”
            “Rayyan??” Aku seolah tak percaya melihat Rayyan sekarang berdiri di hadapanku dengan senyuman yang seperti biasanya. Memesona.
            “Maukah sekarang kau ikut denganku?” tanyanya yang membuatku bertanya-tanya.
            “Ke mana?” jawabku dengan balik bertanya.
            “Ke sebuah tempat yang akan menunjukkanmu sebuah kebenaran,” jawabnya dengan wajah yang membuatku penasaran.
            “Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
            “Sudahlah, ikut saja denganku,” Rayyan meraih tanganku dan menarikku. Aku tak kuasa menahannya. Jalannya sangat cepat. Aku harus setengah berlari untuk mengimbanginya.
¯¯¯
            Aku segera naik Lexus hitam miliknya. Rayyan mengemudikan Lexusnya dengan kecepatan sangat tinggi. Pepohonan yang kami lewati nyaris terlihat seperti bayangan. Namun, entah mengapa aku tidak panik. Aku merasa aman dan nyaman. Mungkin karena kelihaiannya dalam menyetir mobil.
Tanpa sengaja kulihat di dalam mobilnya berserakan dokumen-dokumen dengan map biru bertuliskan BIN. Aku mencoba mengingat akronim itu. Badan Intelijen Negara. Apakah Rayyan seorang intel? Jika memang benar, tak heran ia misterius dan bisa mengetahui segalanya tentangku. Entah bagaimana caranya, seorang intel mempunyai berbagai strategi untuk mengungkap kasus kejahatan. Apakah saat ini ada kasus kejahatan yang terungkap? Tapi, apa hubungannya denganku? Aku tak pernah merasa aku mempunyai kasus. Aku mulai cemas.
            Dengan perasaan cemas, aku sepertinya mengenal jalanan yang saat ini kami lewati. Jalanan yang selalu aku lewati ketika aku hendak pergi ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Apakah kami akan menuju bandara? Berbagai macam pertanyaan mulai menggelayutiku. Kami berdua hanya diam. Rayyan sangat fokus mengendarai Lexusnya. Pikiranku melayang-layang. Apa yang akan Rayyan lakukan terhadapku? Entah mengapa aku tak berani bertanya kepadanya.
¯¯¯
            Ternyata dugaanku benar. Kami sudah tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Aku turun dari mobil dan berjalan cepat mengikuti Rayyan.
            “Untuk apa kau mengajakku kemari? Kau mau membawaku ke mana?” tanyaku penasaran. Apa aku akan dibawa ke luar negeri? Tanyaku dalam hati.
            “Sudahlah. Nanti juga kau tahu sendiri,” jawab Rayyan santai. Jawaban yang membuatku semakin penasaran. Jika aku adalah sebuah gunung berapi, mungkin saat ini aku sudah meledak mengeluarkan lahar penasaran.
            Tiba-tiba aku berhenti mengikuti Rayyan. Kulihat pemandangan yang sangat mengejutkanku. Rayyan pun berhenti. Ia menatapku heran dan beralih menatap pemandangan yang kulihat.
Kulihat Zhafran berjalan mesra bersama seorang wanita yang kukenal. Rupanya ia menjemput Yuri, mantan kekasihnya yang merupakan gadis keturunan Jepang. Ternyata selama ini mereka masih berhubungan. Tak kusangka Zhafran tega mengkhianatiku. Padahal, selama ini kukira Zhafran tulus menyayangiku. Sebutir kristal bening jatuh dari pelupuk mataku. Aku menangis.
“Jadi, pemandangan ini yang ingin kautunjukkan kepadaku?” tanyaku kepada Rayyan. Rayyan hanya mengangguk. Tangisku pecah. Rayyan meraih tubuhku dan memelukku.
Zhafran terkejut melihatku dari kejauhan. Aku melepas pelukan Rayyan dan menghampiri Zhafran yang sepertinya bingung akan berbuat apa. Yuri menatapku puas. Senyum sinisnya mengembang dan sangat menyebalkan.
“Kyra, kau di sini?” tanya Zhafran dengan muka bersalah. Wajahnya secara bergantian menatapku dan Rayyan yang masih berdiri di tempatnya memelukku tadi.
“Ternyata begini? Selama ini kau menyayangiku hanya berpura-pura?” tanyaku setengah berteriak dengan mata berkaca-kaca. Mungkin, wajahku saat ini terlihat sangat jelek dan menyeramkan.
“Maaf, Kyra. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku masih mencintai Yuri,” jelas Zhafran merasa bersalah. “Aku sudah diterima bekerja di salah satu perusahaan di Jepang berkat portofolioku. Setelah wisuda aku akan menikah dengan Yuri dan bekerja di Jepang sambil melanjutkan S2 di sana,” lanjutnya.
Mendengar penjelasannya, jantungku seperti ditusuk-tusuk. Hatiku hancur berkeping-keping. Sakit sekali. Teganya ia berbuat seperti itu kepadaku. Dalam hitungan detik, perasaan sayangku kepada Zhafran berubah menjadi benci.
“Oh, begitu. Jangan pernah hubungi aku lagi,” ujarku tanpa bertanya macam-macam. Kurasa semuanya sudah jelas. Aku pergi meninggalkan mereka berdua. Kulihat Rayyan menatapku iba.
¯¯¯
            “Boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku. Saat ini aku dan Rayyan sedang berada di sebuah tempat yang kusebut Padang Ilalang. Kami duduk di bawah pohon rindang. Di hadapan kami terhampar luas Padang Ilalang. Sangat indah. Semilir angin menyejukkan kami. Mata Rayyan terpejam, tetapi tidak tidur. Wajahnya sangat tenang. Ia sangat menikmati suasana ini.
            “Boleh saja. Apa yang ingin kautanyakan?” tanya Rayyan masih dengan mata terpejam.
            Tanpa basa-basi aku pun bertanya, “Apa kau seorang intel?”
            Rayyan hanya tersenyum.
            “Siapa kau sebenarnya?” tanyaku lagi.
            “Mengapa kau bertanya seperti itu?” Rayyan balik bertanya dan belum juga membuka mata. Wajahnya masih tenang.
            “Mengapa kau bilang?? Sejak dulu aku lelah dengan sikapmu yang selalu membuatku penasaran dan rasa penasaran itu tidak pernah terpecahkan. Kau selalu membiarkanku tersiksa karena rasa penasaranku itu,” jelasku setengah menangis.
            “Sebegitu penasarannyakah dirimu?” tanyanya santai, masih dengan mata terpejam. Aku hanya diam.
            Cukup lama kami berdiam diri, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba seekor kupu-kupu hinggap di atas kepalaku. Ketika aku ingin meraihnya, kupu-kupu itu terbang kembali hingga aku tidak dapat menjangkaunya.
            Aku pun mulai membuka suara kembali. “Kukira kau sudah menghilang ditelan bumi dan kita tidak akan pernah bertemu kembali. Secara tiba-tiba, kau datang dan menunjukkan sebuah fakta. Bagaimana caranya kau tahu tentangku dan Zhafran? Apa kau memata-mataiku? Aku tidak pernah memberitahumu tentang konser pianoku. Lalu, bagaimana kau bisa tahu bahwa Zhafran selama ini masih bersama Yuri? Bagaimana caranya kau …”
            Belum selesai aku berbicara, seluruh aliran darahku seolah memuncak di kepala. Jantungku serasa akan meledak. Tubuhku gemetar dan tak bisa bergerak. Kusadari bibirnya menempel di bibirku. Secara tiba-tiba Rayyan mencium bibirku. Lembut dan membuatku nyaman. Aku pun terhanyut dibuatnya. Semilir angin membuat kami semakin hanyut. Aku berharap waktu berhenti berputar.
            Setelah beberapa lama, Rayyan melepaskan ciumannya. Ia menatap mataku dalam. Aku bisa merasakannya. Aku pun menatapnya. Wajahnya memesona dan menenangkan. Ia tersenyum dan tangannya membelai wajahku yang merah merona.
            “Jangan pernah tanyakan lagi tentang bagaimana aku bisa melakukannya. Selama ini aku pun tidak menghilang. Aku selalu ada di dalam hatimu,” ujar Rayyan.
            “Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
            “Aku mencintaimu,” ucapnya membuatku terkejut.
            “Mengapa kau baru mengatakannya sekarang?”
            “Karena baru sekarang kau mengetahui fakta tentang Zhafran yang masih mencintai Yuri. Selama ini aku membiarkanmu mencintainya karena aku mencintaimu. Aku ingin orang yang kucintai bahagia dengan orang yang ia cintai. Namun, aku melihat selalu ada kejanggalan dalam hubungan kalian,” jelas Rayyan.
            “Bagaimana kau bisa tahu tentang adanya kejanggalan?” tanyaku.
            “Sudah kubilang, jangan pernah tanyakan lagi tentang bagaimana caranya. Aku mempunyai berbagai strategi untuk menyelidiki sesuatu, strategi yang sifatnya rahasia. Tidak boleh ada orang yang tahu.”
            “Jadi, aku pun tidak boleh mengetahuinya?”
            Rayyan mengangguk dan berkata, “Besok aku akan pergi cukup lama.”
            “Ke mana?”
            “Paris. Di sana sedang ada kasus yang harus kuselidiki.”
            “Berapa lama?”
            “Enam bulan,” jawab Rayyan singkat, tetapi membuatku sedih.
            “Lama sekali,” ujarku lemah.
            “Aku berjanji, sepulang dari Paris, aku akan menikahimu. Setelah itu, aku akan mengajakmu ke Paris, kota impianmu,” jelas Rayyan.
            “Kau bercanda. Hahaha…” ucapku tak percaya.
            “Aku serius. Maukah kau menungguku?” Rayyan menatapku dalam. Lagi-lagi tatapan yang membuatku terpesona dan tak bisa menolaknya. Akhirnya aku mengangguk dan tersenyum. Rayyan memelukku erat.
            “Kuharap kau bisa memegang janjiku. Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku mencintaimu,” ucap Rayyan sambil mengusap rambut ikalku yang tertiup angin.
Ribuan ilalang bergoyang-goyang. Daun-daun berguguran di tengah senja. Langit membentuk lukisan abstrak yang indah. Lukisan kebahagiaan kami berdua.[Y]