Muridku,
Semangatku!
Septy
Suci Kirani, S.Pd.
Berbinar
rasa bagai cahaya
Mengukir
asa bagi pelita
Berderap-derap api semangat
Tuk jadikanmu orang-orang hebat
Selamat Hari Guru!
Tulisan itu terpampang jelas
di depan mataku. Biasa saja. Bagiku tak istimewa. Dengan mengenakan jas biru,
kami, para guru, melangkah beriringan dengan OSIS yang mengawal kami dengan
membawa bendera menuju hall, tempat kami akan memperingati Hari Guru. Terdengar
suara perkusi yang siap menyambut kami. Suaranya megah membahana.
Sesampainya di hall, kami
disambut meriah oleh para murid. Mereka bersorak meneriakkan nama guru favorit
mereka sambil membawa balon bertuliskan “Happy
Teacher’s Day!”. Namun, tak ada satu pun murid yang meneriakkan namaku.
Sebenarnya, aku iri dengan
teman-temanku yang diteriakkan namanya oleh murid-murid, tapi aku pura-pura tak
peduli. Aku tetap menyunggingkan senyum terbaikku seolah banyak murid yang
mengidolakanku. Kami berjalan layaknya sang idola menuju tempat duduk yang telah
disediakan. Senyumku masih mengembang.
Acara pun dimulai dengan
sambutan-sambutan, yang dimulai dari ketua pelaksana, perwakilan POMG, dan
kepala sekolah. Kemudian, dilanjutkan dengan hiburan-hiburan dan pembacaan
nominasi guru yang terdiri atas nominasi guru tercantik, guru terganteng, guru
terasyik, guru termodis, guru terbaik, guru terfavorit, dan guru tereksis. Ketika
nominasi dibacakan oleh perwakilan OSIS, ada harap-harap cemas apakah aku
menjadi salah satu nominasi. Sejenak aku lupa dengan rasa iriku. Hasilnya?
Jangankan menjadi pemenang, masuk nominasi pun tidak.
Akhirnya, kami tiba di
puncak acara. Para OSIS bernyanyi lagu “Terima Kasih Guruku”. Lalu, Sang Ketua
OSIS memberikan penghargaan berupa kumpulan foto guru berbentuk hati kepada
kepala sekolah. Setelah itu, kami, para guru dipersilakan untuk berdiri dan
berjejer rapi di depan panggung. Tim Paduan Suara mulai bernyanyi. Mereka
menyanyikan lagu “Hero – Mariah Carey”. OSIS memberikan sekuntum bunga mawar
merah kepada guru favorit mereka. Aku ingin bunga itu. Kuharap ada siswa yang
memberi bunga kepadaku. Namun, tak satu pun OSIS memberikan bunga kepadaku,
sedangkan guru lain ada yang mendapat bunga lebih dari satu. Ini tidak adil!
Setelah OSIS selesai
memberikan bunga, para siswa berbaris untuk bersalaman dengan guru-guru.
Masing-masing dari mereka membawa surat untuk guru-guru favorit mereka. Sejak
Tim Paduan Suara bernyanyi hingga suara mereka hanya sayup-sayup, aku belum
mendapatkan apa-apa, baik bunga maupun surat. Bagaimana ini? Aku malu.
Bagaimana jika ada murid atau guru lain melihatku yang tidak mendapat apa-apa?
Aku malu. Guru-guru lain mendapatkan semua yang aku inginkan: bunga, balon, dan
surat, sementara tanganku masih kosong. Aku mulai hampa. Tunggu sebentar!
Mengapa aku mengharapkan itu semua? Apakah aku pamrih? Seharusnya, aku tak
boleh pamrih. Apalah arti semua itu jika aku tak bisa mengajar mereka dengan
baik.
Aku bertanya-tanya dalam
hati. Mengapa hal ini terjadi kepadaku? Mungkinkah tak ada satu pun murid yang
terkesan kepadaku? Pertanyaan ini membuatku teringat masa lalu ketika salah
satu muridku terang-terangan berkata kepadaku bahwa aku membosankan dan membuat
mereka mengantuk setiap kali aku mengajar di dalam kelas. Mungkin itu memang
benar. Aku menunduk lesu. Ingin segera acara ini berakhir.
Ketika aku menunduk lesu,
tiba-tiba seorang murid menghampiriku. Ia membawa seikat bunga mawar dan
memberikan bunga itu kepadaku. Senyumnya manis bagai bunga mawar yang ia beri.
Dia salah satu murid yang pintar di pelajaranku. Aku sangat senang. Semangatku
telah kembali! Tak lama setelah itu, muridku yang pernah mengatakan bahwa aku
membosankan mendapat giliran untuk bersalaman denganku dan tak disangka pula ia
memberikan sebuah surat kepadaku. Semangatku bertambah lagi!
Acara pun berakhir. Senyumku
masih lebar, senang mendapat apresiasi dari murid-murid. Akhirnya, aku
mendapatkan seikat mawar merah, dua surat, dan sebuah balon bertuliskan “Happy Teacher’s Day!”. Walaupun temanku
ada yang mendapatkan apresiasi lebih banyak daripada diriku, aku tetap senang.
Setidaknya, aku kembali ke ruang guru tidak dengan tangan kosong.
Sesampainya di ruang guru,
kubuka surat dari murid-muridku. Di dalam surat itu, mereka membuatku terkesan.
Mereka mengatakan bahwa mereka sangat menyukaiku mengajar walaupun terkadang
membosankan yang membuatku teringat kembali kritikan muridku itu, “Ibu kalau
ngajar serius banget, bikin ngantuk.”
Menyakitkan, tetapi
memotivasi. Menurutku, itu sebuah kritikan yang membangun. Sejak mendengar
kritikan itu, semangatku memuncak. Aku menjadi termotivasi untuk menjadi guru
yang terbaik bagi mereka. Dalam hal ini, kuncinya adalah mengajar dari hati,
dengan iman, ilmu, dan amal. Tuntutanku adalah selalu kreatif dalam mengajar
yang memang ditunjang oleh kurikulum saat ini, Kurikulum 2013.
Terima
kasih muridku
Kau
buatku semangat kembali
Tak
lelah menyambut pagi
Menempuh
hari dengan hati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar