Jumat, 21 Agustus 2015

CERPEN "MURIDKU, SEMANGATKU!

Muridku, Semangatku!

Septy Suci Kirani, S.Pd.




Berbinar rasa bagai cahaya
Mengukir asa bagi pelita
Berderap-derap api semangat
Tuk jadikanmu orang-orang hebat

Selamat Hari Guru!
Tulisan itu terpampang jelas di depan mataku. Biasa saja. Bagiku tak istimewa. Dengan mengenakan jas biru, kami, para guru, melangkah beriringan dengan OSIS yang mengawal kami dengan membawa bendera menuju hall, tempat kami akan memperingati Hari Guru. Terdengar suara perkusi yang siap menyambut kami. Suaranya megah membahana.
Sesampainya di hall, kami disambut meriah oleh para murid. Mereka bersorak meneriakkan nama guru favorit mereka sambil membawa balon bertuliskan “Happy Teacher’s Day!”. Namun, tak ada satu pun murid yang meneriakkan namaku.
Sebenarnya, aku iri dengan teman-temanku yang diteriakkan namanya oleh murid-murid, tapi aku pura-pura tak peduli. Aku tetap menyunggingkan senyum terbaikku seolah banyak murid yang mengidolakanku. Kami berjalan layaknya sang idola menuju tempat duduk yang telah disediakan. Senyumku masih mengembang.
Acara pun dimulai dengan sambutan-sambutan, yang dimulai dari ketua pelaksana, perwakilan POMG, dan kepala sekolah. Kemudian, dilanjutkan dengan hiburan-hiburan dan pembacaan nominasi guru yang terdiri atas nominasi guru tercantik, guru terganteng, guru terasyik, guru termodis, guru terbaik, guru terfavorit, dan guru tereksis. Ketika nominasi dibacakan oleh perwakilan OSIS, ada harap-harap cemas apakah aku menjadi salah satu nominasi. Sejenak aku lupa dengan rasa iriku. Hasilnya? Jangankan menjadi pemenang, masuk nominasi pun tidak.
Akhirnya, kami tiba di puncak acara. Para OSIS bernyanyi lagu “Terima Kasih Guruku”. Lalu, Sang Ketua OSIS memberikan penghargaan berupa kumpulan foto guru berbentuk hati kepada kepala sekolah. Setelah itu, kami, para guru dipersilakan untuk berdiri dan berjejer rapi di depan panggung. Tim Paduan Suara mulai bernyanyi. Mereka menyanyikan lagu “Hero – Mariah Carey”. OSIS memberikan sekuntum bunga mawar merah kepada guru favorit mereka. Aku ingin bunga itu. Kuharap ada siswa yang memberi bunga kepadaku. Namun, tak satu pun OSIS memberikan bunga kepadaku, sedangkan guru lain ada yang mendapat bunga lebih dari satu. Ini tidak adil!
Setelah OSIS selesai memberikan bunga, para siswa berbaris untuk bersalaman dengan guru-guru. Masing-masing dari mereka membawa surat untuk guru-guru favorit mereka. Sejak Tim Paduan Suara bernyanyi hingga suara mereka hanya sayup-sayup, aku belum mendapatkan apa-apa, baik bunga maupun surat. Bagaimana ini? Aku malu. Bagaimana jika ada murid atau guru lain melihatku yang tidak mendapat apa-apa? Aku malu. Guru-guru lain mendapatkan semua yang aku inginkan: bunga, balon, dan surat, sementara tanganku masih kosong. Aku mulai hampa. Tunggu sebentar! Mengapa aku mengharapkan itu semua? Apakah aku pamrih? Seharusnya, aku tak boleh pamrih. Apalah arti semua itu jika aku tak bisa mengajar mereka dengan baik.
Aku bertanya-tanya dalam hati. Mengapa hal ini terjadi kepadaku? Mungkinkah tak ada satu pun murid yang terkesan kepadaku? Pertanyaan ini membuatku teringat masa lalu ketika salah satu muridku terang-terangan berkata kepadaku bahwa aku membosankan dan membuat mereka mengantuk setiap kali aku mengajar di dalam kelas. Mungkin itu memang benar. Aku menunduk lesu. Ingin segera acara ini berakhir.
Ketika aku menunduk lesu, tiba-tiba seorang murid menghampiriku. Ia membawa seikat bunga mawar dan memberikan bunga itu kepadaku. Senyumnya manis bagai bunga mawar yang ia beri. Dia salah satu murid yang pintar di pelajaranku. Aku sangat senang. Semangatku telah kembali! Tak lama setelah itu, muridku yang pernah mengatakan bahwa aku membosankan mendapat giliran untuk bersalaman denganku dan tak disangka pula ia memberikan sebuah surat kepadaku. Semangatku bertambah lagi!
Acara pun berakhir. Senyumku masih lebar, senang mendapat apresiasi dari murid-murid. Akhirnya, aku mendapatkan seikat mawar merah, dua surat, dan sebuah balon bertuliskan “Happy Teacher’s Day!”. Walaupun temanku ada yang mendapatkan apresiasi lebih banyak daripada diriku, aku tetap senang. Setidaknya, aku kembali ke ruang guru tidak dengan tangan kosong.
Sesampainya di ruang guru, kubuka surat dari murid-muridku. Di dalam surat itu, mereka membuatku terkesan. Mereka mengatakan bahwa mereka sangat menyukaiku mengajar walaupun terkadang membosankan yang membuatku teringat kembali kritikan muridku itu, “Ibu kalau ngajar serius banget, bikin ngantuk.”
Menyakitkan, tetapi memotivasi. Menurutku, itu sebuah kritikan yang membangun. Sejak mendengar kritikan itu, semangatku memuncak. Aku menjadi termotivasi untuk menjadi guru yang terbaik bagi mereka. Dalam hal ini, kuncinya adalah mengajar dari hati, dengan iman, ilmu, dan amal. Tuntutanku adalah selalu kreatif dalam mengajar yang memang ditunjang oleh kurikulum saat ini, Kurikulum 2013.

Terima kasih muridku
Kau buatku semangat kembali
Tak lelah menyambut pagi
Menempuh hari dengan hati


           

           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar