Minggu, 28 Oktober 2018

My Secret Admirer


My Secret Admirer
Septy Suci Kirani

            Sudah tiga hari berturut-turut, Vania, gadis manis berumur 17 tahun itu mendapat kado istimewa. Tapi sayangnya kado itu tidak ada nama pengirimnya. Yang tertulis di kartu ucapan hanya ucapan “Untuk Vania”. Walaupun begitu, hati Vania kini bahagia karena ia mempunyai pemuja rahasia. Vania penasaran, sebenarnya siapa yang sudah mengirimnya bunga, coklat, dan boneka Teddy Bear Itu.
            Ketika Vania berjalan menuju kelasnya, tiba-tiba seorang cowok menabraknya dari depan. Vania terjatuh. Cowok itu tampaknya merasa sangat bersalah karena telah menabrak Vania. Vania meringis kasakitan. Cowok itu mencoba membantu Vania untuk berdiri. Mata mereka bertemu. Jantung Vania berdetak begitu kencang. Seperti orang yang habis berlari seratus meter.
            Suasana begitu hening. Cowok itu memegang tangan Vania dengan sangat erat. Tatapan matanya sangat dalam pada Vania. Seperti cowok yang menyimpan perasaan yang sangat dalam pada seorang gadis.
            Vania tidak menyangka hal ini bakal terjadi karena orang yang menatapnya dari tadi adalah Bintang. Cowok yang selama ini ia sukai.
            “Maaf, tadi gue buru-buru. Jadi gue nggak ngeliat lo!” ujar Bintang memecah keheningan. Ia melepas genggamannya dari tangan Vania. Pandangan Vania tidak lepas dari wajah Bintang. Ia masih takjub dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini.
            “Hallo... lo nggak apa-apa? Kaki lo masih sakit?” tanya Bintang heran melihat gadis ini.
            “Hmm? Apa? Ta..tadi lo ngomong sama gue?” tanya Vania gagap ketika sudah tersadar bahwa Bintang bertanya padanya.
            “Iya...” Bintang tersenyum. Senyuman yang sangat manis, pikir Vania.
            “Lo nggak apa-apa kan?” Bintang mengulangi pertanyaannya.
            “Nggak apa-apa kok,” jawab Vania sambil tersenyum menampakkan lesung pipitnya.
            “Ya udah kalau gitu gue ke sana dulu ya!” Bintang beranjak pergi meninggalkan Vania. Vania belum beranjak dari tempat itu. Ia masih menatap Bintang dari jauh. Andai waktu bisa diulang, pikirnya sambil senyum-senyum sendiri. Lalu, ia beranjak pergi dari tempat itu.
*****
            Saat di kamar, sambil melihat indahnya bintang, Vania bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya siapa yang telah mengirimnya bunga, coklat, dan boneka Teddy Bear yang lucu itu? Mengapa di kartu ucapan ia tidak mencantumkan namanya? Apakah benar ia pemuja rahasia seperti yang dikatakan kedua sahabatnya pada Vania. Tapi apakah ini sebuah teror?? Ahh... semua pikiran-pikiran aneh kini sedang berada dalam otak Vania.
            Zzzzt... Zzzzt... handphone Vania bergetar. Oh... ada SMS. Mata Vania terbelalak ketika membaca pesan SMS itu.
Hey Vania, apa kabar? Kamu suka dengan bunga, coklat, dan boneka Teddy Bear yang aku kirim kemarin? Semoga aja kamu suka ya! Itu semua aku kasih khusus buat kamu karena aku sayang kamu! I MISS YOU...!
  
Lagi-lagi ia tidak memberitahukan namanya. Vania tersenyum tipis. Tapi ia kesal dengan pengirim rahasia itu. Ia mencoba membalas SMS itu.
Hey juga!  Iya aku suka dengan semua pemberian kamu. Thanks ya! Tapi maaf ini siapa?! Tolong balas ya!
           
Hampir dua jam Vania menunggu balasan SMS. Tapi ternyata pengirim rahasia itu tidak membalasnya. Vania kesal. Dasar pengecut, pikir Vania. Ia mencoba melupakan hal itu. Anggap saja semua ini tak terjadi. Bintang-bintang kini sudah tak terlihat lagi. Langit mendung menutupi semuanya.
*****
            Saat jam istirahat, Vania melihat Bintang sedang duduk sendirian tepat di depan lapangan basket. Wajahnya memancarkan aura bintang. Benar-benar sang bintang. Cowok sekeren dia pasti tak akan lolos dari perhatian cewek-cewek.
            Sebenarnya saat ini Vania ingin sekali berkenalan dengan Bintang, tapi ia masih ragu. Hanya cewek-cewek yang merasa dirinya cantik yang dapat mendekati Bintang. Vania tidak merasa punya nyali yang besar untuk mendekati Bintang. Padahal, sebenarnya Vania itu cantik, manis, dan disukai banyak orang. Tapi ia tidak menyadarinya.
            Vania mencoba menerima keadaan. Kini, ia tidak terlalu berharap banyak dengan Bintang. Karena ia tahu, Bintang cowok populer di sekolah, pasti sangat banyak saingan untuk mendapatkan Bintang. Namun, tatapan Bintang waktu itu terasa sangat dalam di hati Vania. Sebelumnya, ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini. Andai pemuja rahasia itu adalah Bintang, pasti aku akan seneng banget, batin Vania berbisik.
            “Hey!” terdengar sebuah suara yang membuyarkan lamunan Vania. Ketika Vania menoleh ke arah sumber suara, jantungnya langsung berdebar kencang karena yang duduk di sampingnya saat ini adalah Bintang. Vania hampir tidak percaya Bintang mendekatinya. Lagi-lagi ia salting di hadapan Bintang.
            “Hey!” Vania membalas sapa sambil memperlihatkan lesung pipitnya yang manis.
            “Sendirian aja?” tanya Bintang sambil tersenyum.
            “Iya! Lo sendiri, nggak bareng temen-temen lo?” Vania mencoba mencari topik pembicaraan.
            “Nggak, oh iya, ngomong-ngomong kita belum kenalan. Nama gue Bintang!” Bintang mengulurkan tangannya pada Vania.
            “Vania!” Vania membalas uluran tangan Bintang.
            “Vania... hmm... nama lo manis ya, semanis orangnya,” puji Bintang. Wajah Vania langsung merah. Ia tersipu malu.
            “Nama lo juga bagus, Bintang... sesuai dengan orangnya, seperti Bintang yang memancarkan sinarnya,” Vania tersipu malu.
            “Aah... bisa aja deh... Tapi, kok lo tau nama gue? Padahal kan kita belum pernah kenalan?” tanya Bintang heran. Keningnya berkerut.
            “Siapa sih yang gak kenal kamu. Kamu itu kan ganteng, keren, smart, bintang sekolah, pokoknya perfect deh!” Vania merasa ucapannya barusan terlalu berlebihan. Ia takut orang yang ada di hadapannya saat ini mengetahui perasaannya.
            Mereka berdua tertawa. Sejak saat itu, mereka menjadi sangat akrab. Ke mana-mana selalu bersama. Di saat mereka sedang bersama, tatapan sinis selalu mewarnai kebersamaan mereka. Sebenarnya, Vania tidak nyaman dengan tatapan-tatapan sinis itu. Karena Bintanglah, ia tetap bertahan.
*****
            Siang itu, Vania berjalan-jalan di mall bersama saudara sepupunya. Ia melihat pernak-pernik yang lucu dan unik. Tanpa sengaja, mata jernihnya melihat Bintang sedang berjalan menuju toko boneka. Kening Vania berkerut. Ia mencoba menghampiri Bintang dan memanggilnya.
            “Bintang...!” teriak Vania sambil berlari. Bintang menoleh ke arah Vania. Ia terlihat sangat terkejut. Sikapnya menjadi aneh, lain dari biasanya.
            “Vania?!” Bintang terkejut dan tersenyum tipis.
            “Hey, lagi ngapain? Lo sendirian?” tanya Vania dengan napas terengah-engah.
            “Hmm...” Bintang terlihat bingung menjawab pertanyaan Vania.
            “Hmm... pasti lo lagi cari kado ya?” Vania mencoba menebak.
            “Iya! Gue lagi nyari kado buat keponakan gue yang lagi ulang tahun,” jawab Bintang.
            “Mau gue temenin?”
            “Hah?! Mmm...” kening Bintang berkerut, seperti sedang menyimpan suatu rahasia.
            “Aku bisa kok milihin kado yang bagus buat keponakan kamu. Pasti keponakan kamu perempuan kan?” ujar Vania sambil melihat boneka-boneka lucu.
            “I... iya”
*****
            Malam itu Vania tidak bisa tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam. Vania beranjak dari tempat tidur dan membuka jendela kamarnya melihat indahnya bulan purnama. Tiba-tiba terlihat seseorang mengendap-endap di halaman rumah Vania. Vania terkejut. Jangan-jangan ia pemuja rahasia itu, pikir Vania.
            Vania segera menuju teras sebelum orang itu pergi. Lalu, ia memanggil orang itu. “Hey...! Tunggu!” teriak Vania.
            Orang itu terkejut. Dan...
            “Bintang?!” Vania terkejut. Matanya terbelalak. Ternyata pemuja rahasia yang selama ini ia cari adalah Bintang. Cowok yang selama ini ia sukai.
            “Jadi, yang selama ini ngirimin semua itu... Lo?!” mata Vania berkaca-kaca. Ia masih tidak percaya.
            “Iya, gue yang selama ini ngirimin bunga, coklat, dan boneka Teddy Bear itu, dan kado yang gue bilang buat keponakan gue itu sebenarnya buat lo. Gue malu ngakuin semua ini ke lo,” Bintang mengakui semuanya.
            Vania masih terdiam. Air matanya mengalir deras. Apakah ini mimpi? Pikir Vania.
            “Mungkin sekarang lo benci sama gue. Tapi gue belum tenang kalau belum nyatain sesuatu ke lo. Sebenarnya udah lama banget gue suka sama lo. Malah sebelum kita kenalan. Jadi... lo mau gak jadi pacar gue?” Bintang menatap Vania dengan sangat dalam. Matanya sangat penuh dengan pengharapan.
            “Nggak, gue gak benci sama lo. Malah gue seneng banget. Karena yang jadi pemuja rahasia gue selama ini adalah orang yang selama ini gue cintai. Gue mau jadi pacar lo!” Vania tersenyum.
            Bintang langsung memeluk Vania dengan sangat erat. Bintang-bintang berkelap-kelip dan bulan purnama yang bersinar sangat terang menjadi saksi mereka berdua.[]

Kota Bogor - 2007


Tidak ada komentar:

Posting Komentar