Spy
of Love
Septy
Suci Kirani
Malam itu, di
sebuah taman, kulihat dua matahari berpendar-pendar dan seolah jaraknya sangat
dekat denganku. Keduanya sama-sama memancarkan cahaya yang sangat indah. Namun,
semakin lama salah satu di antaranya memudar hingga akhirnya menghilang. Kini,
hanya ada satu matahari. Masih berpendar-pendar. Tak lama kemudian, matahari
itu memudar hingga akhirnya pun menghilang. Langit menjadi gelap. Sangat gelap.
Seketika
langit gelap itu berubah menjadi terang. Sangat terang. Kulihat bintang-bintang
di sana. Sangat banyak. Tak terhitung jumlahnya. Ukuran dan bentuknya pun
beragam. Semuanya berkelap-kelip sangat indah bagai permata yang memancarkan
cahaya. Aku takjub melihatnya.
Di
saat yang sama, dari kejauhan kulihat sebuah bintang besar mendekatiku. Dalam
hitungan detik, bintang besar itu jatuh tepat di sampingku. Aku tidak menjauh.
Kakiku seolah tak bisa bergerak. Aku terpaku melihat kejadian ini. Tiba-tiba
aku teringat sebuah mitos tentang melihat bintang jatuh. Mitos itu mengatakan
bahwa jika kau melihat bintang jatuh, maka tak lama lagi permintaanmu tentang
sesuatu akan segera dikabulkan. Tanpa berpikir lagi, aku pun langsung berdoa
agar aku segera dipertemukan dengan belahan jiwaku. Aku sangat merindukannya
walaupun aku belum tahu siapa belahan jiwaku.
Seolah
langsung dikabulkan oleh Tuhan, kulihat sesosok pria dari kejauhan berdiri
membelakangiku. Sepertinya aku mengenalnya. Sosok itu tidak asing bagiku.
Namun, misterius. Aku pun langsung berlari ke arahnya dan memeluknya dengan
erat. Siapakah sosok itu?
¯¯¯
Jam
sudah menunjukkan pukul 04.30 WIB. Aku terbangun dari tidurku dan teringat
kejadian menakjubkan itu. Ternyata itu hanya mimpi. Mimpi yang begitu nyata.
Mimpi yang begitu indah. Ingin rasanya kuulang mimpi itu kembali. Senyum kecil
tersirat di wajahku ketika sosok itu muncul kembali dalam benakku. Siapakah
sosok itu? Aku bertanya-tanya dalam hati. Rasa penasaran langsung merasuki
jiwaku. Entah mengapa aku langsung merasa bahwa tak lama lagi aku bertemu
dengan belahan jiwaku. Entah mengapa pula aku merasa bahwa sosok misterius di
mimpi itu adalah belahan jiwaku. Tapi, mengapa tidak mirip dengan Zhafran,
pacarku? Sosok itu malah mirip dengan Rayyan.
Rayyan.
Di mana ia sekarang? Ia seolah menghilang ditelan bumi semenjak pertengkaran
kami dua tahun lalu. Aku pun membiarkannya menghilang begitu saja. Ada atau
tidak ada dia, tak masalah bagiku. Lagipula, ia sosok yang begitu misterius. Ia
mengetahui segala hal tentangku, tapi aku tak mengetahui segala hal tentangnya.
Ia selalu membiarkanku lelah karena rasa penasaranku kepadanya. Hingga akhirnya
aku benar-benar lelah dan memutuskan untuk membiarkannya pergi dari
kehidupanku.
Sebenarnya,
aku merasa bersalah dengan sikapku ini terhadap Rayyan. Kuakui, aku
menyukainya, bahkan mungkin aku mulai menyayanginya. Padahal, aku masih
mempunyai Zhafran, pacarku yang selalu setia bersamaku. Namun, entah mengapa
perasaan sayangku kepada Zhafran semakin lama semakin memudar. Aku pun tak
mengerti dengan diriku sendiri. Walaupun Rayyan sudah menghilang, sosoknya
masih saja membayangiku. Entahlah.
Aku
selalu berusaha untuk mencintai Zhafran seutuhnya, tapi sosok Rayyan selalu
terbayang-bayang. Jika aku harus memilih di antara keduanya pun, aku lebih
memilih ….
“Kyra,
bangun. Nanti kau terlambat.” Suara mama menyadarkan lamunanku. Aku pun segera
beranjak dari tempat tidurku.
“Ia,
Ma,” jawabku.
Hari ini sekolah
musikku mengadakan konser piano. Aku salah satu pesertanya. Walaupun konsernya
dimulai pukul 13.00 WIB, aku harus tetap datang pagi untuk gladi resik. Dua
bulan lebih aku mempersiapkan diri untuk konser ini. Hampir setiap hari,
sepulang kuliah aku berlatih piano di Zeus,
sekolah musikku. Hampir setiap hari pula
Zhafran menemaniku latihan sambil menyusun skripsinya. Beberapa bulan lagi ia
wisuda dan rencananya akan melanjutkan S2 di Jepang. Namun, sudah seminggu
terakhir menjelang konser piano ini, Zhafran tidak menemaniku latihan karena
sibuk mempersiapkan untuk sidang. Tidak hanya tak bisa menemaniku latihan, tetapi
juga ia menjadi jarang menghubungiku. Mungkin ia memang sedang sangat sibuk.
Aku pun tidak mau mengganggunya. Aku membiarkannya fokus dengan skripsinya
dulu.
Akan tetapi,
satu hal yang masih mengganggu pikiranku saat ini adalah Zhafran sama sekali
belum menghubungiku apakah ia akan datang atau tidak ke konser pianoku atau
hanya sekadar berbasa-basi untuk memberikanku motivasi. Tidak seperti biasanya.
Bahkan, ketika aku yang menghubunginya pun ia tidak merespons. Berbagai pikiran
negatif tentangnya mulai mengganggu pikiranku. Namun, aku mencoba untuk
bersikap dewasa. Aku harus selalu berpikir positif.
¯¯¯
Sepuluh
menit lagi konser dimulai, tetapi belum juga ada kabar dari Zhafran. Aku mulai
kesal. Berkali-kali aku mencoba meneleponnya. Namun, suara operatorlah yang
kudapat. Nomornya tidak aktif. Ia pun tidak membalas SMS, BBM, atau Whatsapp dariku. Mengapa dia begitu? Aku
bertanya-tanya dalam hati. Aku sangat ingin ia melihatku bermain piano dalam
konser ini sebab ini adalah salah satu konser piano terbesar dalam sejarah
perkembangan Zeus. Aku ingin ia
terkagum-kagum melihat kelihaianku dalam bermain piano di atas panggung seperti
Yiruma, pianis idolaku.
“Ada
apa denganmu, Kyra?” tanya Kayla, sahabatku, ketika aku sedang mencengkeram
kuat ponselku.
“Aku
tidak apa-apa,” jawabku sambil tersenyum tipis.
“Apakah
kau gugup?” tanya Kayla yang sepertinya mulai cemas denganku. Kayla sudah
sangat mengenalku. Kami sudah bersahabat sejak SMP. Walaupun aku sudah berusaha
menyembunyikan permasalahanku, ia selalu bisa memprediksi apa yang sedang
terjadi padaku dan prediksinya selalu benar.
“Zhafran
menghilang. Ia tidak bisa dihubungi,” jelasku.
“Jadi,
ia tidak akan datang?” tanya Kayla dengan kening berkerut.
“Sepertinya
begitu,” jawabku murung sambil menghela napas.
“Jangan
sampai masalah ini menjadikanmu tidak fokus. Kau tahu apa yang akan terjadi
jika kau tidak fokus?”
“Ya,
aku tahu. Permainanku akan kacau dan itu membuatku takut.”
Suara
MC yang sedang membuka acara sudah terdengar. Acara sudah dimulai. Dalam
pembukaan ini, aku dan peserta konser lainnya naik ke atas panggung untuk
diperkenalkan oleh MC. Ketika kakiku melangkah naik ke atas panggung, kulihat
sosok yang sepertinya kukenal. Namun, sosok di kursi penonton itu bukan
Zhafran, melainkan Rayyan. Kubuka mataku lebar-lebar. Memastikan bahwa aku
tidak salah lihat. Ternyata memang benar, itu Rayyan. Senyum lebar tersungging
di wajahku. Entah mengapa keberadaannya saat ini membangkitkan semangatku.
Sejenak aku lupa dengan Zhafran.
Rayyan
memang selalu tahu tentangku. Aku tidak pernah memberitahunya tentang konser
piano ini. Kedatangannya sangat mengejutkanku. Bagaimana ia bisa tahu? Padahal,
kami sudah lama lost contact. Ia pun
sudah menghilang dalam waktu yang cukup lama bagiku, dua tahun. Lalu, sekarang
ia muncul kembali. Apakah ia selalu mencari tahu tentangku? Entahlah. Jika
memang begitu, untuk apa dia mencari tahu tentangku? Sejak dulu aku mengenalnya
sebagai sosok yang misterius. Sangat misterius. Identitasnya pun sulit diketahui.
Berkali-kali aku berusaha mencari informasi tentangnya di berbagai sosial
media, tetapi hasilnya nihil. Hingga akhirnya aku menyerah dan membiarkannya
tetap menjadi sosok yang misterius.
¯¯¯
Senyum
lebar menghiasi wajahku. Aku sangat puas dengan penampilanku barusan. Aku
membawakan lagu River Flows in You.
Permainanku sangat mulus, tanpa cacat sedikit pun. Tepuk tangan meriah menggema
dan menggetarkan suasana di gedung konser ketika aku selesai bermain piano,
setelah sebelumnya sangat hening ketika aku sangat lihai menekan tuts-tuts
piano. Aku bisa merasakan penonton terkesima dengan lantunan nada River Flows in You yang kumainkan.
Seandainya Zhafran melihatku, ia pasti sangat kagum kepadaku. Perasaan kecewa
kembali merasuki batinku.
Ketika
aku hendak mencoba kembali menelepon Zhafran, aku dikejutkan oleh suara orang
yang memanggil namaku, yang kedengarannya tidak jauh dariku, suara yang sangat
kukenal.
“Kyra..
Bagaimana kabarmu?”
“Rayyan??”
Aku seolah tak percaya melihat Rayyan sekarang berdiri di hadapanku dengan senyuman
yang seperti biasanya. Memesona.
“Maukah
sekarang kau ikut denganku?” tanyanya yang membuatku bertanya-tanya.
“Ke
mana?” jawabku dengan balik bertanya.
“Ke
sebuah tempat yang akan menunjukkanmu sebuah kebenaran,” jawabnya dengan wajah
yang membuatku penasaran.
“Apa
maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
“Sudahlah,
ikut saja denganku,” Rayyan meraih tanganku dan menarikku. Aku tak kuasa
menahannya. Jalannya sangat cepat. Aku harus setengah berlari untuk
mengimbanginya.
¯¯¯
Aku
segera naik Lexus hitam miliknya. Rayyan mengemudikan Lexusnya dengan kecepatan
sangat tinggi. Pepohonan yang kami lewati nyaris terlihat seperti bayangan. Namun,
entah mengapa aku tidak panik. Aku merasa aman dan nyaman. Mungkin karena
kelihaiannya dalam menyetir mobil.
Tanpa sengaja
kulihat di dalam mobilnya berserakan dokumen-dokumen dengan map biru
bertuliskan BIN. Aku mencoba mengingat akronim itu. Badan Intelijen Negara.
Apakah Rayyan seorang intel? Jika memang benar, tak heran ia misterius dan bisa
mengetahui segalanya tentangku. Entah bagaimana caranya, seorang intel
mempunyai berbagai strategi untuk mengungkap kasus kejahatan. Apakah saat ini ada
kasus kejahatan yang terungkap? Tapi, apa hubungannya denganku? Aku tak pernah
merasa aku mempunyai kasus. Aku mulai cemas.
Dengan
perasaan cemas, aku sepertinya mengenal jalanan yang saat ini kami lewati.
Jalanan yang selalu aku lewati ketika aku hendak pergi ke Bandara Internasional
Soekarno-Hatta. Apakah kami akan menuju bandara? Berbagai macam pertanyaan
mulai menggelayutiku. Kami berdua hanya diam. Rayyan sangat fokus mengendarai
Lexusnya. Pikiranku melayang-layang. Apa yang akan Rayyan lakukan terhadapku?
Entah mengapa aku tak berani bertanya kepadanya.
¯¯¯
Ternyata
dugaanku benar. Kami sudah tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Aku
turun dari mobil dan berjalan cepat mengikuti Rayyan.
“Untuk
apa kau mengajakku kemari? Kau mau membawaku ke mana?” tanyaku penasaran. Apa
aku akan dibawa ke luar negeri? Tanyaku dalam hati.
“Sudahlah.
Nanti juga kau tahu sendiri,” jawab Rayyan santai. Jawaban yang membuatku
semakin penasaran. Jika aku adalah sebuah gunung berapi, mungkin saat ini aku
sudah meledak mengeluarkan lahar penasaran.
Tiba-tiba
aku berhenti mengikuti Rayyan. Kulihat pemandangan yang sangat mengejutkanku. Rayyan
pun berhenti. Ia menatapku heran dan beralih menatap pemandangan yang kulihat.
Kulihat Zhafran
berjalan mesra bersama seorang wanita yang kukenal. Rupanya ia menjemput Yuri,
mantan kekasihnya yang merupakan gadis keturunan Jepang. Ternyata selama ini
mereka masih berhubungan. Tak kusangka Zhafran tega mengkhianatiku. Padahal,
selama ini kukira Zhafran tulus menyayangiku. Sebutir kristal bening jatuh dari
pelupuk mataku. Aku menangis.
“Jadi, pemandangan ini yang
ingin kautunjukkan kepadaku?” tanyaku kepada Rayyan. Rayyan hanya mengangguk.
Tangisku pecah. Rayyan meraih tubuhku dan memelukku.
Zhafran terkejut
melihatku dari kejauhan. Aku melepas pelukan Rayyan dan menghampiri Zhafran
yang sepertinya bingung akan berbuat apa. Yuri menatapku puas. Senyum sinisnya
mengembang dan sangat menyebalkan.
“Kyra, kau di
sini?” tanya Zhafran dengan muka bersalah. Wajahnya secara bergantian menatapku
dan Rayyan yang masih berdiri di tempatnya memelukku tadi.
“Ternyata
begini? Selama ini kau menyayangiku hanya berpura-pura?” tanyaku setengah
berteriak dengan mata berkaca-kaca. Mungkin, wajahku saat ini terlihat sangat jelek
dan menyeramkan.
“Maaf, Kyra. Aku
tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku masih mencintai Yuri,” jelas
Zhafran merasa bersalah. “Aku sudah diterima bekerja di salah satu perusahaan
di Jepang berkat portofolioku. Setelah wisuda aku akan menikah dengan Yuri dan
bekerja di Jepang sambil melanjutkan S2 di sana,” lanjutnya.
Mendengar
penjelasannya, jantungku seperti ditusuk-tusuk. Hatiku hancur berkeping-keping.
Sakit sekali. Teganya ia berbuat seperti itu kepadaku. Dalam hitungan detik,
perasaan sayangku kepada Zhafran berubah menjadi benci.
“Oh, begitu.
Jangan pernah hubungi aku lagi,” ujarku tanpa bertanya macam-macam. Kurasa
semuanya sudah jelas. Aku pergi meninggalkan mereka berdua. Kulihat Rayyan
menatapku iba.
¯¯¯
“Boleh
aku bertanya sesuatu?” tanyaku. Saat ini aku dan Rayyan sedang berada di sebuah
tempat yang kusebut Padang Ilalang. Kami duduk di bawah pohon rindang. Di
hadapan kami terhampar luas Padang Ilalang. Sangat indah. Semilir angin
menyejukkan kami. Mata Rayyan terpejam, tetapi tidak tidur. Wajahnya sangat
tenang. Ia sangat menikmati suasana ini.
“Boleh
saja. Apa yang ingin kautanyakan?” tanya Rayyan masih dengan mata terpejam.
Tanpa
basa-basi aku pun bertanya, “Apa kau seorang intel?”
Rayyan
hanya tersenyum.
“Siapa
kau sebenarnya?” tanyaku lagi.
“Mengapa
kau bertanya seperti itu?” Rayyan balik bertanya dan belum juga membuka mata.
Wajahnya masih tenang.
“Mengapa
kau bilang?? Sejak dulu aku lelah dengan sikapmu yang selalu membuatku
penasaran dan rasa penasaran itu tidak pernah terpecahkan. Kau selalu
membiarkanku tersiksa karena rasa penasaranku itu,” jelasku setengah menangis.
“Sebegitu
penasarannyakah dirimu?” tanyanya santai, masih dengan mata terpejam. Aku hanya
diam.
Cukup
lama kami berdiam diri, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba seekor
kupu-kupu hinggap di atas kepalaku. Ketika aku ingin meraihnya, kupu-kupu itu
terbang kembali hingga aku tidak dapat menjangkaunya.
Aku
pun mulai membuka suara kembali. “Kukira kau sudah menghilang ditelan bumi dan
kita tidak akan pernah bertemu kembali. Secara tiba-tiba, kau datang dan
menunjukkan sebuah fakta. Bagaimana caranya kau tahu tentangku dan Zhafran? Apa
kau memata-mataiku? Aku tidak pernah memberitahumu tentang konser pianoku.
Lalu, bagaimana kau bisa tahu bahwa Zhafran selama ini masih bersama Yuri? Bagaimana
caranya kau …”
Belum
selesai aku berbicara, seluruh aliran darahku seolah memuncak di kepala.
Jantungku serasa akan meledak. Tubuhku gemetar dan tak bisa bergerak. Kusadari
bibirnya menempel di bibirku. Secara tiba-tiba Rayyan mencium bibirku. Lembut
dan membuatku nyaman. Aku pun terhanyut dibuatnya. Semilir angin membuat kami
semakin hanyut. Aku berharap waktu berhenti berputar.
Setelah
beberapa lama, Rayyan melepaskan ciumannya. Ia menatap mataku dalam. Aku bisa
merasakannya. Aku pun menatapnya. Wajahnya memesona dan menenangkan. Ia
tersenyum dan tangannya membelai wajahku yang merah merona.
“Jangan
pernah tanyakan lagi tentang bagaimana aku bisa melakukannya. Selama ini aku
pun tidak menghilang. Aku selalu ada di dalam hatimu,” ujar Rayyan.
“Apa
maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
“Aku
mencintaimu,” ucapnya membuatku terkejut.
“Mengapa
kau baru mengatakannya sekarang?”
“Karena
baru sekarang kau mengetahui fakta tentang Zhafran yang masih mencintai Yuri.
Selama ini aku membiarkanmu mencintainya karena aku mencintaimu. Aku ingin
orang yang kucintai bahagia dengan orang yang ia cintai. Namun, aku melihat
selalu ada kejanggalan dalam hubungan kalian,” jelas Rayyan.
“Bagaimana
kau bisa tahu tentang adanya kejanggalan?” tanyaku.
“Sudah
kubilang, jangan pernah tanyakan lagi tentang bagaimana caranya. Aku mempunyai
berbagai strategi untuk menyelidiki sesuatu, strategi yang sifatnya rahasia.
Tidak boleh ada orang yang tahu.”
“Jadi,
aku pun tidak boleh mengetahuinya?”
Rayyan
mengangguk dan berkata, “Besok aku akan pergi cukup lama.”
“Ke
mana?”
“Paris.
Di sana sedang ada kasus yang harus kuselidiki.”
“Berapa
lama?”
“Enam
bulan,” jawab Rayyan singkat, tetapi membuatku sedih.
“Lama
sekali,” ujarku lemah.
“Aku
berjanji, sepulang dari Paris, aku akan menikahimu. Setelah itu, aku akan
mengajakmu ke Paris, kota impianmu,” jelas Rayyan.
“Kau
bercanda. Hahaha…” ucapku tak percaya.
“Aku
serius. Maukah kau menungguku?” Rayyan menatapku dalam. Lagi-lagi tatapan yang
membuatku terpesona dan tak bisa menolaknya. Akhirnya aku mengangguk dan
tersenyum. Rayyan memelukku erat.
“Kuharap
kau bisa memegang janjiku. Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku mencintaimu,”
ucap Rayyan sambil mengusap rambut ikalku yang tertiup angin.
Ribuan ilalang
bergoyang-goyang. Daun-daun berguguran di tengah senja. Langit membentuk
lukisan abstrak yang indah. Lukisan kebahagiaan kami berdua.[Y]

awesome
BalasHapus